IPD – 08 April 2026 | Pound Sterling kembali menguat terhadap dolar Amerika pada sesi awal perdagangan Eropa, menembus level 1,3445 dan mendekati level tertinggi dua minggu terakhir. Penguatan ini dipicu oleh perubahan sentimen pasar menjadi lebih risk-on setelah terjadinya gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran, yang menurunkan ketegangan geopolitik di Teluk Persia.
Kebijakan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menunda serangan yang direncanakan terhadap pembangkit listrik Iran serta kesepakatan Tehran untuk membuka kembali Selat Hormuz selama dua minggu memberikan dorongan signifikan bagi aset-aset berisiko. Pada saat yang sama, indeks S&P 500 naik lebih dari 2,7 persen, menandakan aliran dana yang kuat ke ekuitas dan menurunkan permintaan safe‑haven pada dolar AS.
Indeks Dolar AS (DXY) yang mengukur nilai greenback terhadap enam mata uang utama turun sekitar 0,75 persen, berada di sekitar 98,75. Penurunan ini mencerminkan berkurangnya tekanan jual pada dolar karena investor kini lebih mengutamakan eksposur pada mata uang yang menawarkan potensi keuntungan yang lebih tinggi, termasuk pound sterling.
Selain faktor geopolitik, pasar juga mencatat perubahan signifikan dalam ekspektasi kebijakan moneter Federal Reserve. Alat CME FedWatch menunjukkan bahwa para trader telah menghapus kemungkinan kenaikan suku bunga oleh The Fed pada sisa tahun ini. Sebelumnya, pasar memperkirakan setidaknya satu kali kenaikan suku bunga setelah konflik di Timur Tengah mulai memanas pada akhir Februari. Penurunan ekspektasi ini menambah tekanan pada dolar, memperkuat pound di pasar forex.
Investor kini menantikan risalah pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) bulan Maret, yang dijadwalkan rilis pada pukul 18:00 GMT. Meskipun risalah tersebut dapat memberikan petunjuk tambahan mengenai prospek kebijakan moneter, dampaknya terhadap dolar diperkirakan terbatas mengingat fokus utama tetap pada risiko geopolitik yang masih mendominasi agenda pasar.
Pada saat artikel ini ditulis, pasangan GBP/USD diperdagangkan di kisaran 1,3445, mengukir kembali posisi di atas Exponential Moving Average (EMA) 20‑hari setelah berada di bawahnya selama periode yang relatif lama. Pemulihan harga di atas EMA menandakan pergeseran bias jangka pendek menjadi bullish, meskipun masih bersifat hati‑hati.
Momentum teknikal semakin menguat dengan Relative Strength Index (RSI) yang naik ke level 56, melewati ambang 50 yang biasanya menandakan tekanan beli. Kenaikan RSI ini konsisten dengan pola pembalikan yang terjadi setelah harga menembus level terendah akhir Maret.
Secara visual, struktur harga menunjukkan bahwa pasangan berada dalam zona konsolidasi antara 1,3350 dan 1,3445. Penembusan di atas EMA 20‑hari membuka peluang bagi pasangan untuk menguji resistance pertama di level tertinggi 23 Maret, yaitu 1,3480. Jika level tersebut berhasil ditembus, target selanjutnya dapat mengarah ke kisaran 1,3600.
Di sisi support, EMA 20‑hari berfungsi sebagai zona pertahanan utama. Penutupan di bawah EMA akan menandakan perubahan sentimen menjadi netral atau bearish, berpotensi menguji level support berikutnya di sekitar 1,3300. Selama harga tetap berada di atas 1,3370, struktur teknikal masih mendukung kelanjutan kenaikan menuju 1,3480 dan lebih tinggi.
Catatan: Analisis teknikal dalam artikel ini disusun dengan bantuan alat AI.
Faktor fundamental yang memengaruhi GBP/USD
- Gencatan senjata dua minggu antara AS dan Iran mengurangi ketegangan geopolitik, meningkatkan selera risiko investor.
- Penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed mengurangi daya tarik dolar sebagai aset safe‑haven.
- Rilis risalah FOMC bulan Maret menjadi fokus utama, meski dampaknya diperkirakan terbatas karena faktor eksternal.
Selain faktor‑faktor di atas, data ekonomi Inggris yang dirilis pada pekan ini menunjukkan pertumbuhan aktivitas sektor jasa yang lebih kuat dari perkiraan, memperkuat pandangan positif terhadap pound. Sementara itu, data inflasi di Amerika Serikat masih berada di atas target The Fed, menambah ketidakpastian mengenai jalur kebijakan moneter di masa mendatang.
Secara keseluruhan, kombinasi antara perbaikan sentimen risiko, penurunan ekspektasi kebijakan moneter AS, dan data ekonomi Inggris yang relatif positif menciptakan lingkungan yang mendukung penguatan pound sterling. Namun, trader tetap harus memperhatikan level support kunci di sekitar EMA 20‑hari serta potensi volatilitas yang dapat muncul bila ada perkembangan geopolitik atau kebijakan moneter yang tak terduga.
Dengan semua faktor yang berinteraksi, pasar forex kemungkinan akan terus memantau pergerakan GBP/USD dalam rentang 1,3400‑1,3500 dalam beberapa sesi ke depan. Trader disarankan untuk mengelola risiko dengan hati‑hati, terutama mengingat masih adanya ketidakpastian di wilayah Timur Tengah dan potensi perubahan kebijakan The Fed yang dapat memengaruhi dinamika dolar secara signifikan.
Kesimpulannya, pound sterling menunjukkan tren penguatan yang kuat berkat perbaikan sentimen risk‑on, penurunan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta dukungan teknikal dari EMA 20‑hari dan RSI yang menguat. Selama faktor‑faktor fundamental ini tetap mendukung, GBP/USD berpeluang melanjutkan kenaikan menuju level resistance 1,3480 dan bahkan menguji target 1,3600, asalkan tidak terjadi penurunan tajam di bawah zona support utama.
