IPD – 20 April 2026 | Bandara Internasional Beirut menjadi saksi bisu upacara penghormatan terakhir pada Senin, 20 April 2026, untuk menghormati jasa-jasanya Florian Montorio, Sersan Kepala asal Prancis yang gugur saat menjalankan tugas penjaga perdamaian di wilayah Ghanduriyah, Lebanon selatan. Upacara tersebut dipimpin oleh Kepala Misi dan Komandan Pasukan UNIFIL, Mayor Jenderal Diodato Abagnara, yang menyampaikan rasa hormat mendalam serta mengingat kembali pengorbanan sang prajurit.
“Kami ada di sini untukmu hari ini, kami di sini untuk berdiri di hadapanmu dan menghormatimu,” ujar Abagnara dalam siaran pers resmi. Ia menambahkan, “Sebagai komandanmu, saya berbicara dengan rasa hormat dan hati yang berat. Pengabdianmu tidak berakhir di sini; ia akan terus hidup dalam setiap langkah kami sebagai penjaga perdamaian.”
Florian Montorio, 39 tahun, meninggalkan seorang istri dan dua anak perempuan. Ia tewas pada Jumat, 17 April 2026, ketika patroli UNIFIL yang sedang membersihkan bahan peledak di Ghanduriyah diserang dengan senjata ringan oleh aktor-aktor non‑negara. Insiden tersebut juga melukai tiga penjaga perdamaian lainnya, dua di antaranya mengalami luka serius.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menuding Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab, namun Hizbullah membantah keterlibatan dan menuntut penyelidikan oleh otoritas Lebanon. UNIFIL telah meluncurkan investigasi independen dan mendesak pemerintah Lebanon untuk mengidentifikasi serta menuntut pelaku.
Upacara penghormatan tidak hanya dihadiri oleh Abagnara. Beberapa pejabat tinggi turut hadir, antara lain Kepala Staf UNIFIL Paul Sanzey, Duta Besar Prancis untuk Lebanon Hervé Magro, perwakilan Kementerian Pertahanan Lebanon Maroun Azzi, serta Komandan Kontingen Prancis Gaspard Lancrenon. Dalam sambutannya, Sanzey menekankan komitmen Prancis yang konsisten terhadap misi UNIFIL sejak 1978, serta menegaskan bahwa prajurit Prancis selalu siap mendukung operasi penjinakan ranjau dan patroli darat.
Montorio adalah penjaga perdamaian keempat yang tewas sejak konflik bersenjata antara Hizbullah dan Israel kembali pecah pada 2 Maret 2026. Tiga korban sebelumnya berasal dari kontingen Indonesia: Sertu Farizal Rhomadhon, Kopral Syarifuddin, dan Praka Agus Setiawan. Kejadian ini menambah beban emosional bagi misi UNIFIL yang telah beroperasi sejak 1978 untuk menjaga stabilitas di Lebanon.
Setelah upacara di bandara, jenazah Florian Montorio diterbangkan kembali ke Prancis menggunakan pesawat militer. Sebagai penghormatan anumerta, ia dianugerahi medali dari Perserikatan Bangsa‑Bangsa dan Angkatan Darat Lebanon, menandai pengakuan internasional atas dedikasinya.
Berikut rangkaian singkat acara penghormatan:
- 20:00 – Kedatangan jenazah di Bandara Internasional Beirut.
- 20:15 – Sambutan resmi oleh Mayor Jenderal Diodato Abagnara.
- 20:30 – Penyampaian penghormatan oleh perwakilan Prancis dan Lebanon.
- 20:45 – Pemotongan bendera dan pengibaran bendera Prancis setengah tiang.
- 21:00 – Pengiriman jenazah ke pesawat militer untuk kembali ke Prancis.
Investigasi resmi UNIFIL masih berlangsung, dengan fokus pada identifikasi pelaku penembakan serta penyebab kegagalan keamanan pada patroli. Pihak berwenang Lebanon diharapkan dapat memberikan laporan lengkap dalam beberapa minggu ke depan.
Kepergian Florian Montorio menegaskan kembali risiko tinggi yang dihadapi para penjaga perdamaian di zona konflik. Namun, pernyataan Abagnara menegaskan bahwa semangat pengabdian Montorio akan terus menginspirasi generasi berikutnya, memperkuat tekad UNUNIFIL untuk melanjutkan misi menjaga perdamaian di wilayah yang masih rawan.
Upacara penghormatan ini tidak hanya menjadi momen berduka, tetapi juga simbol solidaritas internasional dalam melindungi stabilitas Lebanon. Keluarga Montorio, serta seluruh komunitas militer Prancis, menerima dukungan penuh dari komunitas global, menegaskan bahwa pengorbanan satu prajurit tidak akan pernah terabaikan.
