IPD – 03 Juni 2026 | Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu, 3 Juni 2026. Penurunan ini disebabkan oleh kombinasi sentimen internal dan eksternal, termasuk meningkatnya ketegangan AS dan Iran.
Menurut data RTI, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah 39 poin atau 0,22 persen menjadi 17.878 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.839 per dolar AS. Rupiah pun makin tertekan hingga menembus 17.926 per dolar AS.
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, menjelaskan bahwa sentimen pasar yang menekan rupiah adalah ketidakjelasan perkembangan konflik geopolitik global. Presiden AS, Donald Trump, mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sementara dari pihak Teheran menyatakan telah menangguhkan negosiasi.
Dari dalam negeri, pasar menyoroti sejumlah data ekonomi, termasuk inflasi sebesar 3,08% YoY pada Mei 2026 dan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026.
Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dilaporkan naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026. Namun, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi.
Ibrahim memperkirakan rupiah akan kembali melemah pada perdagangan hari ini, Rabu, 3 Juni 2026. “Untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.840 sampai Rp17.900,” tandasnya.
Sementara itu, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) meninggalkan posisi 6.000 pada perdagangan saham hari ini. IHSG hari ini turun lebih dari 4 persen di tengah seluruh sektor saham tertekan.
Mengutip data RTI, IHSG melemah 4,34% ke 5.924. Indeks saham LQ45 melemah 4,13% menjadi 593. Seluruh indeks saham acuan tertekan.
Analis PT MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana, mengatakan bahwa koreksi yang terjadi Jakarta Composite Index saat ini disebabkan oleh adanya pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Pergerakan IHSG juga dibebani oleh emiten konglomerasi yang selama dua hari belakangan ini bergerak menguat signifikan, bahkan mengalami auto reject atas (ARA). “Dari sisi teknikal, pergerakan JCI masih berada di fase downtrend-nya dan belum menunjukkan ada tanda pembalikan arah yang valid,” kata dia.
Kesimpulan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS mengalami penurunan pada pembukaan perdagangan hari ini, disebabkan oleh kombinasi sentimen internal dan eksternal. IHSG juga mengalami penurunan, dengan seluruh indeks saham acuan tertekan.
