Swiss Open 2026: Juara Korea Masters Tersingkir, Ana/Trias Siap Tantang Jia Yi Fan di Babak 16 Besar

IPD – 12 Maret 2026 | Swiss Open 2026 yang digelar di St. Jakobshalle, Basel pada 12 Maret ini menyajikan aksi-aksi menegangkan di babak 16 besar. Sorotan utama jatuh pada pasangan ganda putri Indonesia, Ana/Tris, yang akan menantang unggulan dua asal Cina, Jia Yi Fan dan Zhang Shu Xian. Di sisi lain, juara Korea Masters 2026, Rian/Rahmat, mengalami kegagalan yang tak terduga ketika tersingkir oleh pasangan Malaysia, Kang Khai Xing/Aaron Tai, pada babak 32 besar.

Kejutan di Ganda Putra: Rian/Rahmat Tersingkir

Pertandingan pembuka ganda putra menampilkan pertarungan sengit antara pasangan Malaysia yang baru naik daun dengan duo Indonesia yang baru saja meraih gelar Korea Masters. Kang Khai Xing dan Aaron Tai berhasil mengalahkan Rian Ardianto dan Rahmat Hidayat dengan skor 21-16, 29-27. Kemenangan ini menandai berakhirnya perjalanan Rian/Rahmat di turnamen, meski sebelumnya mereka tampil impresif di ajang Korea Masters.

Ana/Trias Menatap Tantangan Cina

Pasangan ganda putri Indonesia, Ana (nama lengkap tidak disebutkan) dan Trias Puspitasari, berhasil melaju ke babak 16 besar setelah mengalahkan pasangan Jepang Rin Iwanaga/Kie Nakanishi pada babak 32 besar. Pada pertemuan berikutnya, mereka dijadwalkan melawan Jia Yi Fan dan Zhang Shu Xian, unggulan dua dari Cina. Pertandingan ini menjadi pertemuan pertama kedua pasangan, menambah tingkat antisipasi penonton.

“Kami sudah menyiapkan taktik khusus untuk menghadapi gaya permainan Cina yang cepat dan agresif,” ujar Trias dalam konferensi pers sesaat sebelum pertandingan. Ana menambahkan bahwa pengalaman di Thailand Masters 2026, di mana mereka keluar sebagai juara, memberikan kepercayaan diri tambahan untuk menghadapi lawan tangguh.

Performans Ganda Campuran Indonesia

Sementara itu, ganda campuran Indonesia menampilkan beberapa cerita menarik. Pasangan veteran Adnan Maulana/Indah Cahya Sari Jamil menegaskan tekad untuk mempertahankan konsistensi setelah meraih gelar Thailand Masters 2026. Mereka berhasil mengalahkan rekan sesama Indonesia Dejan Ferdinansyah/Bernadine Anindya Wardana dalam dua set langsung pada babak pertama Swiss Open.

Adnan mengakui bahwa mereka sempat bermain terburu‑buru pada set pertama, namun berhasil memperbaiki ritme di set kedua. “Di set pertama banyak poin yang terbuang karena kami terlalu cepat. Di set kedua kami lebih tenang dan mengontrol permainan,” kata Adnan.

Pada babak kedua, Adnan/Indah akan menghadapi pasangan Taiwan, Yang Po‑Hsuan/Hu Ling Fang, pertemuan yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Berita Lain di Swiss Open 2026

  • Mohammad Zaki Ubaidillah (Ubed) tersingkir di babak pertama setelah kalah dari wakil China Li Shi Feng dengan skor 22‑24, 21‑16, 16‑21. Ia mengaku mengalami kram pada betis dan paha, yang menghambat pergerakan.
  • Leo Rolly Carnando/Bagas Maulana melanjutkan perjuangan mereka di babak 16 besar melawan Kang Khai Xing/Aaron Tai, pasangan yang baru saja menyingkirkan Rian/Rahmat.
  • Putri tunggal Indonesia, Kusuma Wardani, akan bertarung melawan Wong Ling Ching dari Malaysia pada laga urutan dua, lapangan tiga.

Statistik dan Jadwal Penting

BabakPasanganLawanSkor
32 BesarRian/RahmatKang/Aaron (MAS)16‑21, 27‑29
32 BesarAna/TrisIwanaga/Nakanishi (JPN)21‑18, 22‑20
16 BesarAna/TrisJia Yi Fan/Zhang (CHN)belum dimainkan
32 BesarAdnan/IndahFerdinansyah/Wardana (INA)21‑13, 20‑22, 21‑19

Dengan jadwal yang padat dan persaingan ketat, Swiss Open 2026 menjadi ajang penting bagi pemain Indonesia untuk menguji konsistensi dan kesiapan menjelang turnamen BWF World Tour selanjutnya. Fokus utama kini beralih ke pertandingan-pertandingan kunci di babak 16 besar, khususnya duel Ana/Tris melawan Jia Yi Fan yang berpotensi menjadi salah satu pertarungan paling menarik dalam turnamen ini.

Jika Ana/Tris mampu menahan tekanan dan mengeksekusi taktik yang telah dipersiapkan, mereka tidak hanya memperpanjang jejak kemenangan Indonesia di Swiss Open, tetapi juga meningkatkan peluang meraih gelar di turnamen tingkat super‑300 ini. Sebaliknya, kegagalan Rian/Rahmat menjadi pengingat bahwa dominasi di satu turnamen tidak menjamin kesuksesan berkelanjutan, terutama menghadapi lawan-lawan yang semakin siap secara taktik dan fisik.

Leave a Comment