Rupiah Tembus Rp17.000, Menkeu Purbaya Bingung dan Meminta Penjelasan ke BI

IPD – 17 Maret 2026 | Jakarta, 17 Maret 2026 – Pada Senin (16/3/2026) nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat sempat menembus level Rp17.000 per dolar, menimbulkan kehebohan di pasar uang dan menambah kecemasan investor. Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, mengaku tidak mengetahui penyebab pasti pelemahan tersebut dan menegaskan bahwa penjelasan seputar dinamika nilai tukar berada di bawah kewenangan Bank Indonesia (BI).

Reaksi Menteri Keuangan di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian

Dalam konferensi pers singkat di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Purbaya menyatakan bahwa indikator ekonomi makro Indonesia secara keseluruhan masih menunjukkan kekuatan dan stabilitas. “Kalau ekonominya sedang tumbuh kuat, fundamentalnya tentu baik. Dalam kondisi normal, rupiah seharusnya cenderung menguat,” ujarnya pada pukul 14.39 WIB. Ia menambahkan bahwa pemerintah tidak berada pada posisi untuk menjelaskan pergerakan nilai tukar karena hal itu dapat menimbulkan persepsi intervensi kebijakan moneter.

“Kenapa Anda menanyakan hal itu kepada saya? Tanggung jawab bank sentral hanya satu, yaitu menjaga stabilitas nilai tukar. Jadi, sebaiknya Anda menanyakan kepada bank sentral mengenai apa yang terjadi,” tegas Purbaya. Ia memperingatkan bahwa bila pemerintah memberikan komentar terkait pergerakan nilai tukar, hal itu dapat dianggap sebagai campur tangan yang menyalahi prinsip independensi BI.

Faktor Eksternal yang Mempengaruhi Pasar

Pengamat pasar uang, Lukman Leong, mengidentifikasi tiga faktor utama yang memberi tekanan pada rupiah pada hari itu. Pertama, konflik yang semakin memanas di kawasan Timur Tengah meningkatkan permintaan terhadap aset safe‑haven seperti dolar AS, sehingga menurunkan nilai tukar mata uang negara berkembang. Kedua, harga minyak dunia tetap tinggi, memperbesar beban impor energi bagi Indonesia dan berpotensi memperlebar defisit transaksi berjalan. Ketiga, sentimen domestik dipengaruhi oleh kekhawatiran fiskal, terutama terkait Peraturan Pemerintah Pengganti Undang‑Undang (Perppu) yang dianggap menambah ketidakpastian bagi investor.

Data Bloomberg mencatat bahwa pada siang hari rupiah melemah hingga Rp17.005 per dolar, turun 47,5 poin (0,28%) dibandingkan penutupan sebelumnya. Pada penutupan perdagangan, kurs Jisdor (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) tercatat di Rp16.990, sementara penutupan resmi di bursa menunjukkan Rp16.998.

Fundamental Ekonomi Indonesia Masih Kuat

Meskipun nilai tukar berada di level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir, Purbaya menekankan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap solid. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal kedua diproyeksikan tetap berada di kisaran 5,2‑5,5 %, inflasi berada di bawah target 2‑4 %, dan cadangan devisa tetap mencukupi untuk menahan volatilitas pasar. “Jika ekonominya lagi lari kencang, fundamentalnya baik. Rupiah seharusnya menguat dalam kondisi normal,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kebijakan fiskal pemerintah diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara stimulus pertumbuhan dan kontrol defisit, sehingga tidak menjadi penyebab utama pelemahan mata uang.

Peran Bank Indonesia dan Harapan ke Depan

Bank Indonesia, sebagai otoritas moneter, memiliki mandat tunggal untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Menurut pernyataan resmi BI, bank sentral terus memantau perkembangan pasar global, termasuk dinamika harga minyak, aliran modal, dan geopolitik. BI menegaskan bahwa kebijakan intervensi di pasar valuta asing tetap bersifat terukur dan hanya akan dilakukan bila diperlukan untuk menghindari volatilitas berlebih.

Purbaya mengakhiri paparan dengan mengajak semua pihak, termasuk media dan pelaku pasar, untuk mengarahkan pertanyaan mengenai penyebab melemahnya rupiah langsung kepada Bank Indonesia. “Jika saya memberi komentar, nanti bisa dianggap intervensi kebijakan bank sentral. Jadi, silakan tanya ke bank sentral,” pungkasnya.

Dengan kondisi fundamental yang tetap kuat, para analis memperkirakan bahwa rupiah memiliki potensi untuk kembali menguat, asalkan tekanan eksternal tidak semakin intensif. Sementara itu, keputusan kebijakan moneter BI dalam minggu-minggu mendatang akan menjadi faktor penentu utama dalam mengembalikan kepercayaan pasar.

Leave a Comment