IPD – 12 Maret 2026 | Jakarta, 12 Maret 2026 – Pada perdagangan valuta asing hari ini, Rupiah Indonesia terus mencatatkan pelemahan tipis terhadap Dolar Amerika Serikat. Kurs terbuka pada pukul 09.06 WIB berada di level Rp16.895 per dolar, menandakan penurunan sebesar 0,05% atau 9 basis poin dibandingkan penutupan sebelumnya. Penutupan pada sesi sore pukul 15.20 WIB menunjukkan Rupiah berada di Rp16.893, melemah 0,04% atau sekitar Rp7 dari level penutupan kemarin.
Faktor Geopolitik Menjadi Sentimen Utama
Sentimen pasar hari ini didominasi oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Iran kembali memperketat kontrol di Selat Hormuz, memblokir lalulintas kapal sebagai respons terhadap serangan militer Amerika Serikat dan Israel. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa eskalasi konflik tersebut memberikan tekanan tambahan pada nilai tukar Rupiah, meski ia tetap optimis bahwa mata uang nasional dapat bertahan berkat koordinasi fiskal‑moneter yang kuat.
Pengamat mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa gangguan pasokan energi global memperburuk ketidakpastian pasar. “Iran berjanji akan terus menyerang kapal di Selat Hormuz hingga konflik berakhir, sehingga pasar energi menjadi sangat volatil,” ujar Assuaibi.
Data Domestik Membebani Sentimen
Di sisi dalam negeri, data ekonomi terbaru menambah beban pada Rupiah. Cadangan devisa Indonesia turun ke level terendah tiga bulan pada Februari, sedangkan indeks kepercayaan konsumen menurun setelah mencapai puncak pada Januari. Penurunan kepercayaan konsumen mencerminkan tekanan biaya hidup yang semakin tinggi menjelang perayaan Idul Fitri.
Bloomberg mencatat depresiasi Rupiah sebesar 0,14% atau 23 poin menjadi Rp16.886 per dolar pada sesi sebelumnya, sementara indeks Dolar AS naik tipis 0,05% ke level 98,87. Meskipun indeks Dolar AS berada pada level tertinggi tiga bulan terakhir, Rupiah tetap relatif stabil bila dibandingkan dengan mata uang tetangga di kawasan Asia Tenggara.
Perbandingan Regional
| Mata Uang | Depresiasi |
|---|---|
| Rupiah (IDR) | 0,14% (23 poin) |
| Ringgit Malaysia (MYR) | 0,5% |
| Baht Thailand (THB) | 1,6% |
Menurut Menteri Keuangan, depresiasi 0,3% sejak Israel‑AS meluncurkan rudal ke Iran pada 28 Februari 2026 masih lebih ringan dibandingkan penurunan yang dialami negara‑negara pesaing regional. Hal ini menandakan daya tahan eksternal Indonesia yang masih kuat di tengah gejolak global.
Reaksi Pasar dan Prospek Kedepan
Para pelaku pasar menilai bahwa pergerakan Rupiah dalam rentang Rp16.880 hingga Rp16.910 masih berada dalam batas wajar mengingat tekanan eksternal. Purbaya Yudhi Sadewa menekankan bahwa meskipun Rupiah sempat menembus batas psikologis Rp17.000 pada awal minggu, kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten memberikan ruang bagi stabilitas nilai tukar.
Ia menambahkan, “Rupiah terdepresiasi secara moderat, sejalan dengan penguatan dolar AS global, namun tetap lebih baik dibandingkan banyak negara peers. Ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia dan kepercayaan investor internasional.”
Dengan indeks dolar yang masih relatif kuat dan situasi geopolitik yang belum mereda, analis memperkirakan Rupiah akan tetap berada dalam kisaran sempit selama beberapa hari ke depan. Namun, jika konflik di Selat Hormuz berlanjut atau data domestik menunjukkan tekanan inflasi yang lebih signifikan, tekanan penurunan dapat kembali menguat.
Secara keseluruhan, pergerakan nilai tukar hari ini mencerminkan kombinasi faktor eksternal—khususnya ketegangan Timur Tengah—dan dinamika ekonomi domestik yang masih rapuh. Pemerintah dan Bank Indonesia diharapkan terus memantau perkembangan untuk memastikan kebijakan yang responsif terhadap perubahan pasar.
