IPD – 10 Maret 2026 | Jakarta – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) melaporkan kinerja keuangan yang mengesankan untuk tahun 2025, dengan laba bersih mencapai Rp2,34 triliun dan pendapatan total sebesar Rp7,35 triliun, menandai pencapaian tertinggi dalam sejarah perusahaan.
Kinerja Keuangan yang Memukau
Direktur Keuangan PGEO, Yurizki Rio, menyatakan bahwa pendapatan tahun 2025 meningkat 6,29 % secara tahunan dibandingkan tahun sebelumnya, naik dari sekitar Rp6,92 triliun menjadi Rp7,35 triliun. Laba bersih sebesar 137,67 juta dolar AS (setara Rp2,34 triliun) menunjukkan profitabilitas yang kuat meskipun terdapat tekanan biaya operasional.
Selain itu, total aset perusahaan tercatat sebesar 3,03 miliar dolar AS dan kas serta setara kas mencapai 718,5 juta dolar AS, memberikan likuiditas yang cukup untuk mendukung ekspansi kapasitas.
Produksi Tembus All‑Time High
PGEO berhasil mencatat produksi panas bumi tertinggi sepanjang sejarah, dengan peningkatan produksi sebesar 5,6 % pada tahun 2025. Pencapaian ini didorong oleh kinerja optimal dari 727 MW pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang dikelola secara mandiri, termasuk PLTP Kamojang yang menjadi andalan utama perusahaan.
Strategi Pertumbuhan dan Ekspansi
Direktur Utama PGEO, Ahmad Yani, menegaskan visi perusahaan untuk menjadi “world‑leading geothermal producer”. Untuk mewujudkannya, PGEO fokus pada tiga pilar utama:
- Menjaga keandalan operasional PLTP eksisting.
- Mendorong ekspansi kapasitas melalui proyek‑proyek quick‑win di 15 Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP).
- Mengembangkan sumber pendapatan masa depan, termasuk kerjasama dengan PLN Indonesia Power untuk 19 proyek berkapasitas total 530 MW.
Target jangka panjang perusahaan adalah mencapai kapasitas terpasang hingga 3 GW, yang telah diidentifikasi dari wilayah‑wilayah kerja strategis di seluruh Indonesia.
Dampak terhadap Transisi Energi Nasional
Dengan kontribusi energi terbarukan yang signifikan, PGEO berperan penting dalam mendukung target dekarbonisasi Indonesia. Peningkatan produksi panas bumi membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, sekaligus menyediakan listrik bersih yang stabil bagi jaringan nasional.
Secara keseluruhan, kombinasi pendapatan yang naik, laba bersih yang kuat, dan rencana ekspansi ambisius menegaskan posisi PGEO sebagai pemain kunci dalam sektor energi terbarukan Indonesia. Keberhasilan ini tidak hanya meningkatkan nilai bagi pemegang saham, tetapi juga memperkuat fondasi energi bersih yang dibutuhkan untuk mencapai net‑zero Indonesia pada tahun 2060.
