IPD – 12 Maret 2026 | Selat Hormuz kembali menjadi sorotan dunia setelah sebuah kapal kargo ternama mengalami serangan proyektil tak dikenal pada dini hari tanggal 11 Maret 2026. Insiden terjadi sekitar 50 mil laut barat laut Ras Al Khaimah, Uni Emirat Arab, dan memicu serangkaian peringatan keamanan dari United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO). Kapal berbendera Thailand, Mayuree Naree, melaporkan kerusakan pada lambung serta kebakaran di ruang mesin, namun seluruh awak berhasil dievakuasi, dengan 20 orang selamat dan tiga orang masih dalam pencarian.
Rangkaian Serangan dalam Satu Hari
UKMTO mencatat tiga serangan terpisah pada hari yang sama. Pertama, sebuah kapal kontainer berbendera Jepang dilaporkan terkena proyektil sekitar 25 mil laut barat laut Ras Al Khaimah. Kedua, kapal kargo curah berbendera Kepulauan Marshall, Star Gwyneth, mengalami benturan serupa di lokasi yang sama dengan kapal Mayuree Naree. Ketiga, sebuah kapal kargo Thailand menjadi korban paling serius, terkena dua proyektil yang menyebabkan kebakaran meluas dan kerusakan pada ruang mesin.
Reaksi dan Langkah Penyelidikan
Kapten Mayuree Naree segera melaporkan insiden kepada UKMTO, yang kemudian mengaktifkan prosedur darurat serta mengirimkan peringatan kepada semua kapal niaga yang melintasi Selat Hormuz. Pihak berwenang Inggris dan Uni Emirat Arab bersama dengan otoritas maritim Oman mengerahkan tim penyelamat dan melakukan inspeksi wilayah. Hingga kini, belum ada identifikasi pasti tentang asal usul proyektil, namun spekulasi mengarah pada kemungkinan keterlibatan militer regional mengingat ketegangan yang meningkat sejak serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari.
Dampak Ekonomi Global
Selat Hormuz merupakan jalur utama bagi sekitar 20 juta barel minyak dan produk turunannya yang mengalir tiap harinya. Gangguan berulang di zona ini menyebabkan lonjakan harga minyak dunia, memaksa International Energy Agency (IEA) mengumumkan pelepasan darurat 400 juta barel minyak cadangan untuk menstabilkan pasar. Menurut data IEA, aliran minyak melalui selat tersebut telah turun menjadi kurang dari 10 persen dari level pra‑konflik, menimbulkan kekhawatiran tentang kelangsungan pasokan energi global.
Profil Kapal Mayuree Naree
- Panjang: 178 meter
- Daya angkut: sekitar 30.000 ton
- Rute: Dari Khalifa Port, UEA menuju Kandla, India
- Kecepatan saat kejadian: sekitar satu knot
Situasi Keamanan Maritim di Hormuz
Serangkaian serangan ini menegaskan kerentanan jalur pelayaran strategis di Teluk setelah pecahnya konflik pada 28 Februari 2026. Sejak itu, setidaknya 14 kapal komersial dilaporkan menjadi sasaran di wilayah tersebut. Iran dikabarkan telah menempatkan ranjau laut di beberapa titik, sementara pasukan Amerika Serikat dan sekutu meningkatkan patroli udara dan laut. Kondisi ini menambah beban operasional bagi perusahaan pelayaran yang kini harus menyesuaikan rute, meningkatkan biaya asuransi, serta menunggu klarifikasi dari otoritas internasional.
Hingga kini, tiga awak yang masih hilang diperkirakan terjebak di ruang mesin yang terbakar. Tim penyelamat Oman terus melakukan pencarian dengan menggunakan perahu cepat dan helikopter. Pihak perusahaan pemilik kapal, Precious Shipping, menyatakan akan memberikan dukungan penuh kepada keluarga korban dan berkoordinasi dengan otoritas untuk menemukan kru yang hilang.
Insiden ini menegaskan pentingnya koordinasi internasional dalam menanggulangi ancaman keamanan maritim. Selat Hormuz, sebagai pintu gerbang energi dunia, memerlukan pengawasan ketat dan respons cepat untuk mencegah eskalasi lebih lanjut yang dapat mengguncang pasar energi global.
Dengan situasi yang masih berkembang, para pelaut, perusahaan pelayaran, dan pemerintah diharapkan tetap waspada serta mengikuti arahan resmi demi keamanan bersama.
