Mengenang Donny Fattah: Bassist Legendaris God Bless yang Tutup Usia, Terungkap 3 Riwayat Penyakit Menghantui Sang Rockstar

IPD – 09 Maret 2026 | Jakarta, 8 Maret 2026 – Dunia musik Indonesia berduka setelah Donny Fattah, bassist ikonik grup legendaris God Bless, meninggal pada Sabtu, 7 Maret 2026 di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta Selatan, pada usia 76 tahun. Kepergian sang musisi tidak hanya meninggalkan jejak musik yang tak tergantikan, melainkan juga menyingkap tiga riwayat penyakit kronis yang mengiringi akhir hidupnya.

Riwayat Penyakit yang Diderita Donny Fattah

  • Penyakit Jantung (Kardiomiopati): Ahmad Albar, vokalis God Bless, mengungkapkan bahwa Donny sudah lama mengidap masalah jantung. “Ya banyak sekali pengalaman ya. Tapi memang Donny sudah lama juga sakit… jantung,” katanya saat pemakaman di TPU Kampung Kandang.
  • Diabetes Mellitus: Keluarga dan rekan dekat mengonfirmasi bahwa bassist tersebut mengidap diabetes tipe 2 selama beberapa tahun terakhir, yang memperburuk kondisi kesehatannya secara umum.
  • Hipertensi (Tekanan Darah Tinggi): Selain diabetes, Donny juga mengelola tekanan darah tinggi, sebuah penyakit yang umum pada usia lanjut dan menjadi faktor risiko tambahan bagi komplikasi jantung.

Ketiga penyakit tersebut merupakan beban kronis yang memperlambat stamina fisik Donny, namun tidak mengurangi semangatnya untuk tetap tampil di atas panggung. Bahkan pada usia 50 tahun, ia masih aktif berpartisipasi dalam tur Jakarta dan menampilkan satu atau dua lagu dalam setiap penampilan.

Kehidupan dan Karier Musikal

Donny Fattah, yang akrab disapa Iyek, adalah bagian tak terpisahkan dari God Bless sejak awal berdirinya band pada awal 1970-an. Menurut laporan Suara.com, ia berperan sebagai penjaga ritme bas yang solid, memberi fondasi kuat bagi karya-karya rock progresif band tersebut.

Berbagai catatan sejarah musik menegaskan peran vital Donny. Dalam arsip Kompas, Donny disebutkan bersama Ahmad Albar, Ludwig (gitar), Deddy (organ), dan Fuad (drum) sebagai “empat kawannya yang tidak kurang menarik”. Penampilannya bersama God Bless pada konser pertama di Teater Terbuka Taman Ismail Marzuki pada Mei 1973 menandai era baru musik rock Indonesia.

Karier Donny tidak hanya terbatas pada panggung lokal. Ia turut beraksi dalam konser besar seperti Summer 28, Kemarau 75, serta membuka panggung untuk band internasional seperti Deep Purple (Desember 1975) dan Suzi Quatro (November 1975). Keberanian God Bless untuk mengadopsi elemen progresif rock, termasuk penggunaan alat musik tiup dan trio gesek, semakin menegaskan keunikan musikal Donny.

Integritas Pribadi dan Kedisiplinan Spiritual

Selain bakat musiknya, Donny dikenal sebagai pribadi yang disiplin dalam beribadah. Ahmad Albar menekankan bahwa Donny selalu tepat waktu melaksanakan sholat; ia menghentikan segala aktivitas ketika azan berkumandang. “Sholatnya selalu tepat ya, dia kalau udah bunyi adzan dia langsung istirahat untuk sholat,” kenang Albar dengan kagum.

Kedisiplinan ini mencerminkan karakter Donny yang tidak hanya menekuni dunia musik, tetapi juga menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan. Hal ini membuatnya dihormati tidak hanya oleh rekan musisi, tetapi juga oleh keluarga dan penggemar yang melihatnya sebagai teladan.

Reaksi Rekan dan Penggemar

Pemakaman Donny di TPU Kampung Kandang dihadiri oleh sejumlah tokoh musik, termasuk Ahmad Albar yang memberikan doa dan mengenang kembali semangat tinggi Donny dalam bermusik. “Mudah-mudahan mendapat tempat yang baik di sisi Allah Subhanahu Wa Ta’ala,” tutup Albar.

Penggemar God Bless di seluruh Indonesia turut berduka, menorehkan pesan-pesan belasungkawa di media sosial. Banyak yang menyoroti kontribusi Donny dalam mengukir sejarah rock Indonesia, serta mengingat kembali penampilan-penampilan ikoniknya di era 70-an hingga 2000-an.

Kepergian Donny Fattah juga menambah daftar kehilangan besar God Bless, setelah sebelumnya sang vokalis Yaya Moektio meninggal. Namun, warisan musik mereka tetap hidup melalui rekaman, dokumentasi, dan kenangan yang dibawa oleh generasi musisi berikutnya.

Dengan tiga riwayat penyakit kronis yang akhirnya menjadi faktor utama kematiannya, Donny Fattah meninggalkan pelajaran penting tentang pentingnya perhatian kesehatan, terutama bagi para seniman yang sering mengabaikan tanda-tanda awal penyakit demi panggung.

Warisan Donny tidak akan pudar; bass line yang kuat, integritas pribadi, dan dedikasinya pada ibadah menjadi contoh bagi banyak orang. Selamat jalan, Iyek, semoga musikmu terus bergema di hati para penggemar selamanya.

Leave a Comment