IPD – 15 Maret 2026 | Malam ke-21 Ramadan, yang dikenal sebagai Slekoran di kalangan masyarakat Madura, kembali menjadi sorotan setelah dihayati di kota Lhokseumawe, Aceh Utara. Tradisi yang menandai sepuluh malam terakhir Ramadhan ini tidak hanya sekadar penanda kalender, melainkan sebuah momentum untuk memperkuat spiritualitas dan mempererat jaringan sosial. Pengalaman langsung penulis yang menelusuri Ramadan di wilayah bersejarah Samudra Pasai mengungkap cara nilai‑nilai Islam dipertahankan dalam dinamika kehidupan modern.
Latar Sejarah dan Signifikansi Slekoran
Sekitar abad ke‑13, Kerajaan Samudra Pasai menjadi pintu gerbang penyebaran Islam di Asia Tenggara. Warisan keagamaan itu masih terasa kuat di Aceh, dimana norma‑norma Islami dijaga secara kolektif. Di Madura, istilah Slekoran menandai malam ke-21 Ramadan, fase yang diyakini penuh berkah. Selama malam tersebut, masyarakat biasanya mengadakan tadarus Al‑Qur’an, doa bersama, serta berbagi makanan kepada tetangga.
Implementasi Praktik di Lhokseumawe
Di Lhokseumawe, disiplin sosial tampak jelas sejak azan pertama berkumandang. Toko‑toko menutup sementara, dan warga berbondong‑bondong menuju masjid. Aktivitas ekonomi melambat, menegaskan bahwa ibadah menjadi prioritas bersama. Norma berpakaian juga sangat menonjol; perempuan mayoritas memakai busana sopan dan syar’i, sementara laki‑laki jarang terlihat dengan celana pendek. Kebiasaan ini tidak dipaksakan, melainkan telah menjadi bagian alami dari kehidupan sehari‑hari.
Waktu berbuka di Lhokseumawe sekitar pukul 18.45, hampir satu jam lebih lambat dibandingkan Madura. Tarawih biasanya selesai sekitar pukul 22.00, setelah itu aktivitas ekonomi malam kembali hidup. Toko‑toko tetap buka hingga pukul 00.00, dan warga melanjutkan kegiatan sosial di warung kopi lokal, dikenal sebagai “ngupi”. Kupi Syarif Delima, salah satu kedai paling terkenal, menyajikan kopi saring Aceh yang aromatik. Warung kopi ini berfungsi sebagai ruang diskusi, tempat warga melepas lelah, bahkan hingga sahur dini hari.
Pariwisata Halal dan Kesopanan di Pantai Bangka Jaya
Pengalaman berbuka di pantai Bangka Jaya memperlihatkan potensi wisata halal. Pengunjung menikmati hidangan sambil memandang laut, dengan mayoritas perempuan berpakaian sopan sesuai norma setempat. Suasana ramai tetap terjaga, namun tetap dalam koridor kesopanan yang dijaga ketat. Observasi ini menimbulkan gagasan bahwa model wisata serupa dapat diadaptasi di Madura, menggabungkan ekonomi pariwisata dengan nilai‑nilai budaya Islam.
Dampak Sosial‑Ekonomi Selama Ramadan
- Penghentian sementara aktivitas ekonomi pada waktu azan meningkatkan rasa kebersamaan.
- Jam operasional toko yang diperpanjang hingga larut malam menyesuaikan pola hidup Ramadan, tetap memberikan peluang usaha.
- Warung kopi menjadi pusat interaksi sosial, memperkuat jaringan komunitas.
- Norma berpakaian yang ketat mencerminkan konsensus budaya, menurunkan potensi konflik nilai.
Keseluruhan, tradisi Slekoran di Lhokseumawe menunjukkan bahwa nilai religius dapat hidup berdampingan dengan dinamika ekonomi dan sosial modern tanpa mengorbankan esensi keislaman.
Refleksi akhir menegaskan bahwa warisan Islam di Samudra Pasai dan tradisi Slekoran di Madura berada pada satu jalur historis yang sama. Kedua daerah menampilkan cara berbeda namun selaras dalam menjaga kesucian Ramadan lewat iman, kesopanan, dan kebersamaan. Semangat yang terpancar dari malam Slekoran menjadi pengingat bahwa keberagaman tradisi tetap dapat bersinergi dalam memperkuat identitas Islam Nusantara.
