IPD – 08 Maret 2026 | Washington – Pada 7 Maret 2026, sebuah laporan yang dimuat dalam The Atlantic mengungkapkan bahwa Amerika Serikat belum memiliki sistem pertahanan yang memadai untuk menghadapi drone bunyi‑bunyi (kamikaze) Shahed buatan Iran. Seorang pejabat kongres yang meminta tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa militer AS “tidak memiliki pertahanan yang kuat untuk melawan (drone) Shahed”.
Menurut laporan tersebut, Menteri Pertahanan Pete Hegseth dan Ketua Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine telah mengakui adanya kesenjangan kemampuan dalam menghadapi pesawat nirawak tersebut. Pernyataan mereka muncul dalam sebuah pengarahan tertutup dengan anggota parlemen, di mana Hegseth menegaskan bahwa drone Shahed‑136 menimbulkan tantangan yang lebih besar bagi pertahanan udara AS daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Fokus Investasi pada Ancaman Jarak Jauh
Analisis menyoroti bahwa selama beberapa tahun terakhir, anggaran pertahanan AS lebih diprioritaskan pada sistem berlapis yang dirancang untuk menangkis ancaman jarak jauh, khususnya dari China. Sistem seperti THAAD, Aegis dan jaringan satelit pertahanan diperlakukan sebagai prioritas utama, sementara ancaman jarak dekat seperti drone Iran kurang mendapatkan perhatian dan pendanaan.
Pengalihan fokus ini menimbulkan risiko strategis. Drone Shahed, yang diluncurkan oleh Iran dan sering digunakan oleh Rusia dalam konflik Ukraina, mampu terbang hingga 1.500 kilometer dengan muatan bahan peledak sekitar 40 kilogram. Kecepatan rendah dan profil radar yang kecil membuatnya sulit dideteksi oleh sistem radar tradisional, sehingga memerlukan solusi pertahanan khusus.
Reaksi Amerika Serikat terhadap Serangan Terbaru
Pada 28 Februari 2026, Amerika Serikat bersama sekutu Israel melancarkan serangan udara ke berbagai target di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Serangan tersebut menimbulkan kerusakan infrastruktur serta korban jiwa sipil. Iran merespons dengan meluncurkan serangkaian serangan balasan ke wilayah Israel serta pangkalan militer AS di Timur Tengah, menggunakan drone Shahed sebagai salah satu senjata utama.
Serangan balasan tersebut menegaskan bahwa Iran dapat memanfaatkan drone Shahed untuk menimbulkan kerusakan signifikan, terutama bila pertahanan udara AS tidak siap mengintersepnya secara efektif.
Ukraina Menawarkan Solusi Murah dan Efektif
Seiring meningkatnya ancaman, Ukraina muncul sebagai contoh inovasi pertahanan murah. Kyiv telah mengembangkan sistem drone pencegat sekali pakai yang mampu menabrak dan menjatuhkan drone musuh secara langsung. Sistem ini menggunakan kamera internal untuk mengirimkan gambar real‑time ke operator darat, memungkinkan penargetan presisi.
Menurut Panglima Tertinggi Ukraina, Oleksandr Syrsky, sekitar 70 % drone yang diluncurkan Rusia ke wilayah Kyiv pada Februari lalu berhasil dihentikan oleh drone pencegat tersebut. Setiap unit pencegat berharga antara 700 hingga 12.000 dolar AS – jauh lebih murah dibandingkan rudal pertahanan udara Patriot yang dapat mencapai lebih dari 1 juta dolar per unit.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (sebelum pengunduran diri) pernah meminta bantuan Ukraina untuk mengirimkan spesialis drone militer ke negara‑negara Teluk, dengan harapan teknologi murah ini dapat memperkuat pertahanan terhadap drone Shahed.
Langkah-Langkah Penanggulangan yang Diperlukan
- Peningkatan Radar Berfrekuensi Tinggi: Mengadopsi radar yang dapat mendeteksi objek berkecepatan rendah dan ukuran kecil.
- Pengembangan Sistem Intersep Murah: Memanfaatkan teknologi drone pencegat seperti yang dikembangkan Ukraina, serta mengintegrasikannya ke dalam jaringan pertahanan udara regional.
- Pengalokasian Anggaran Khusus: Menyisihkan dana untuk memperkuat pertahanan jarak dekat, khususnya terhadap ancaman drone berdaya rendah.
- Kolaborasi Intelijen Internasional: Menyusun basis data bersama mengenai jalur operasional dan produksi drone Shahed.
Tanpa langkah-langkah tersebut, kesenjangan pertahanan AS dapat dimanfaatkan tidak hanya oleh Iran, tetapi juga oleh aktor‑aktor lain yang memiliki akses ke teknologi serupa.
Secara keseluruhan, pengakuan publik dari pejabat tinggi militer AS menandakan bahwa strategi pertahanan tradisional harus diperbarui. Mengingat kemampuan drone Shahed yang semakin teruji di medan perang Ukraina dan potensi penggunaannya oleh Iran, Amerika Serikat perlu mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel, cepat, dan ekonomis untuk melindungi kepentingan strategisnya di kawasan Timur Tengah dan sekitarnya.
