IPD – 15 Maret 2026 | Bank Central Asia (BCA) kembali menjadi sorotan utama pasar modal Indonesia menjelang akhir tahun 2025, ketika perusahaan mengumumkan rangkaian kebijakan yang dapat meningkatkan total return bagi pemegang sahamnya. Mulai dari jadwal cum dividend yang akan berlaku setelah Lebaran, besaran dividen final sebesar Rp281 per saham, hingga program buyback saham yang diluncurkan di tengah tekanan harga, semuanya disusun untuk memperkuat kepercayaan investor dan menstabilkan kinerja saham BBCA.
Jadwal Cum Dividen BBCA 2026
Menurut pengumuman resmi BCA, cum dividend untuk tahun buku 2025/2026 akan berlaku mulai tanggal 10 April 2026, tepat setelah perayaan Lebaran. Investor yang memegang saham hingga tanggal tersebut berhak menerima dividen yang telah ditetapkan. Berikut rangkaian tanggal penting yang perlu dicatat:
| Tanggal | Keterangan |
|---|---|
| 10 April 2026 | Mulai Cum Dividend (hak menerima dividen) |
| 25 April 2026 | Ex-Dividend Date (saham tidak lagi cum dividend) |
| 30 April 2026 | Pembayaran Dividen Final |
Penetapan tanggal cum dividend yang bertepatan dengan periode pasca Lebaran dipandang strategis, mengingat volume transaksi biasanya meningkat pada periode tersebut. Hal ini memungkinkan likuiditas saham tetap terjaga sambil memberikan kesempatan bagi investor ritel untuk berpartisipasi.
Dividen Final Rp281 per Saham
BCA menetapkan dividen final sebesar Rp281 per saham untuk tahun 2025, angka yang berada di atas rata-rata dividen sektor perbankan pada periode yang sama. Besaran ini mencerminkan kinerja keuangan BCA yang solid, dengan pencapaian laba bersih yang terus meningkat selama tiga tahun terakhir. Dengan total ekuitas yang kuat dan rasio CAR (Capital Adequacy Ratio) yang berada di atas regulasi OJK, BCA mampu membagikan dividen yang kompetitif tanpa mengorbankan pertumbuhan modal.
Dividen final ini akan dibayarkan secara tunai ke rekening para pemegang saham yang terdaftar pada tanggal ex-dividend. Bagi investor institusional, pembayaran ini juga dapat meningkatkan yield portofolio mereka, mengingat BCA merupakan salah satu saham blue‑chip paling likuid di BEI.
Buyback Saham di Tengah Tekanan Harga
Tak lama setelah mengumumkan jadwal dividen, BCA meluncurkan program buyback saham senilai Rp1,5 triliun. Program ini dirancang untuk menambah permintaan di pasar sekaligus menstabilkan harga saham yang sempat mengalami tekanan akibat sentimen makroekonomi global. Dalam rentang waktu tiga bulan, BCA berencana membeli kembali sahamnya di bursa dengan harga pasar terbuka, tanpa menetapkan batas maksimum per hari.
Buyback ini diperkirakan dapat mengurangi jumlah saham beredar sekitar 2‑3 persen, sehingga meningkatkan rasio laba per saham (EPS) dan potensi capital gain bagi investor. Kombinasi antara dividen tinggi dan buyback saham menjadi sinyal positif bahwa manajemen BCA berkomitmen memberikan value tambah kepada pemegang saham, terutama di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi.
Para analis pasar modal menilai bahwa langkah ini dapat memperkuat persepsi nilai wajar BBCA, sekaligus memberikan ruang bagi pergerakan harga yang lebih stabil dalam jangka menengah. Dengan likuiditas tinggi, buyback juga diperkirakan tidak akan menimbulkan gangguan signifikan pada perdagangan harian.
Secara keseluruhan, rangkaian kebijakan dividen dan buyback BCA menunjukkan strategi manajemen yang terintegrasi, menggabungkan distribusi laba yang atraktif dengan mekanisme penunjang nilai saham. Investor yang mengincar pendapatan tetap dan potensi apresiasi modal dapat mempertimbangkan BBCA sebagai pilihan utama dalam portofolio mereka.
Dengan jadwal cum dividend yang jelas, dividen final yang kompetitif, dan program buyback yang mendukung, BCA menegaskan posisinya sebagai salah satu saham unggulan di pasar modal Indonesia untuk tahun 2026 mendatang.
