Derby Milan Pecah! AC Milan Menang Tipis 1‑0 Usai Inter Gagal Dapat Penalty

IPD – 11 Maret 2026 | San Siro menjadi saksi dramatis pada Senin, 9 Maret 2026, ketika AC Milan berhasil mengamankan tiga poin penting melawan rival sekotanya, Inter Milan, dengan skor tipis 1‑0. Gol tunggal yang menentukan datang dari bek kiri asal Ekuador, Pervis Estupinan, mengakhiri rentetan 15 pertandingan tak terkalahkan Inter dan menambah tekanan pada perburuan Scudetto di Serie A 2025/2026.

Gol Penentu dari Bek Tak Terduga

Estupinan, yang selama musim ini sering bersaing untuk tempat di starting XI melawan Davide Bartesaghi, mengejutkan semua pihak dengan penampilan yang mengesankan. Pada menit ke‑23, Youssouf Fofana mengirimkan umpan terobosan ke sisi kiri pertahanan. Estupinan menyalip satu bek Inter, kemudian melepaskan tembakan keras ke sudut atas gawang yang tidak dapat dijangkau kiper lawan. Gol tersebut menjadi satu-satunya pencapaian dalam pertandingan dan mengubah dinamika laga secara drastis.

Keputusan Kontroversial: Handball dan VAR

Setelah gol, Inter mengklaim adanya handball di dalam kotak penalti yang seharusnya memberi mereka peluang penalti. Namun, percakapan antara wasit utama dan petugas VAR yang kemudian bocor menunjukkan bahwa keputusan tersebut dianggap tidak jelas. Wasit memilih untuk tidak memberikan penalti, menegaskan bahwa tidak ada kontak yang cukup jelas antara pemain Inter dan bola. Inter tampak kecewa, namun pelatih tidak mengeluarkan komentar yang bersifat pembelaan, memilih fokus pada perbaikan taktik selanjutnya.

Penampilan Solid dari Koni De Winter

Bek muda Belgia, Koni De Winter, yang sempat mengalami kesulitan beradaptasi sejak kepindahannya ke Milan, tampil mengesankan. Statistik pertandingan mencatat lima sapuan bola, lima perebutan bola, tiga blok tembakan, dan dua intersepsi. Akurasi umpan mencapai 87 persen, sementara duel udaranya menghambat upaya penyerang Inter. Penampilan De Winter menjadi salah satu faktor utama mengapa Milan mampu menjaga clean sheet hingga peluit akhir.

Lini Tengah yang Mengontrol Irama

Duet Luka Modrić dan Adrien Rabiot kembali menjadi tulang punggung permainan Milan. Modrić mengendalikan tempo dengan penguasaan bola yang tenang, sementara Rabiot menambahkan intensitas fisik dalam duel di tengah lapangan. Kedua pemain berhasil menutup ruang gerak dan jalur umpan Inter, membuat pemain seperti Nicolo Barella frustrasi dan berulang kali mengeluarkan teriakan kecewa di lini tengah.

Inter Milan Terkendala oleh Dimarco

Federico Dimarco, pemain sayap kiri Inter yang biasanya menjadi ancaman kreatif dengan tujuh gol dan 15 assist musim ini, tidak mampu menembus pertahanan Milan. Alexis Saelemaekers yang menandingi Dimarco secara langsung berhasil menahan pergerakannya, menjadikan Dimarco hampir tak berpengaruh dalam menyerang.

Pelajaran Penting dari Derby Ini

  • Pemain tidak terduga dapat menjadi penentu hasil; Estupinan membuktikan nilai pentingnya rotasi skuad.
  • Keputusan VAR tetap menjadi faktor tak terduga yang dapat mengubah jalannya pertandingan.
  • Soliditas lini pertahanan dan kontribusi bek muda seperti De Winter sangat krusial dalam derby berisiko tinggi.
  • Keseimbangan antara kreativitas dan kedisiplinan di lini tengah menjadi kunci mengendalikan tempo.
  • Inter harus mengevaluasi cara menetralkan pemain sayap lawan yang biasanya menjadi ancaman utama.

Dampak pada Klasemen

Kemenangan ini mengurangi jarak poin antara Milan dan pemimpin klasemen, sekaligus menempatkan tekanan lebih besar pada Inter yang kini harus mengejar ketertinggalan. Dengan 28 pekan Serie A yang tersisa, persaingan untuk gelar juara menjadi semakin ketat, menjanjikan babak penutup liga yang penuh ketegangan.

Secara keseluruhan, derby Milan kali ini tidak hanya menambah satu poin penting bagi Rossoneri, tetapi juga memperlihatkan dinamika taktik, keputusan arbitrase, dan peran pemain kunci yang dapat menjadi penentu dalam pertempuran Scudetto musim ini.

Leave a Comment