IPD – 08 Maret 2026 | Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengumumkan bahwa musim kemarau 2026 akan tiba lebih cepat dari biasanya, diperkirakan mulai bulan April dan mencapai puncaknya pada Agustus. Peralihan dari La Nina lemah ke kondisi netral serta potensi munculnya El Nino kategori lemah-moderate menjadi faktor utama yang mendorong perubahan pola hujan ini.
Peralihan ENSO dan risiko El Nino
Menurut Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, indeks ENSO berada pada -0,28 pada awal Maret 2026, menandakan kondisi netral yang diproyeksikan bertahan hingga Juni. Namun, peluang terbentuknya El Nino pada semester kedua tahun ini diperkirakan mencapai 50-60 %.
“Jika El Nino berkembang, musim kemarau dapat menjadi lebih kering dari normal, terutama di wilayah yang sudah diprediksi mengalami penurunan curah hujan,” ujar Faisal dalam keterangan pers pada 7 Maret 2026.
Zona Musim (ZOM) yang terdampak
BMKG membagi wilayah Indonesia menjadi 714 Zona Musim (ZOM). Berikut rangkuman distribusi masuknya musim kemarau berdasarkan bulan:
| Bulan | Jumlah ZOM | Persentase wilayah |
|---|---|---|
| April 2026 | 114 | 16,3 % |
| Mei 2026 | 184 | 26,3 % |
| Juni 2026 | 163 | 23,3 % |
Secara keseluruhan, 325 ZOM (46,5 %) diproyeksikan mengalami awal kemarau lebih cepat, 173 ZOM (24,7 %) sesuai dengan pola normal, dan 72 ZOM (10,3 %) mengalami penundaan.
Wilayah paling cepat memasuki kemarau
Daerah yang diprediksi mengalami kemarau lebih awal meliputi:
- Sebagian besar Sumatra, terutama wilayah selatan dan tengah.
- Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
- Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
- Kalimantan bagian selatan dan timur, termasuk wilayah Kalimantan Selatan, Tengah, dan Timur.
- Sebagian besar Sulawesi, khususnya Sulawesi Tengah, Selatan, dan Tenggara.
- Maluku dan sebagian Papua.
Puncak kemarau dan tingkat keparahan
BMKG memperkirakan puncak kemarau nasional terjadi pada Agustus 2026, mencakup 429 ZOM atau sekitar 61,4 % wilayah Indonesia. Sekitar 12,6 % wilayah diprediksi mencapai puncak pada Juli, sementara 14,3 % mengalami puncak pada September.
Dari segi intensitas, 451 ZOM (64,5 %) diproyeksikan berada di bawah normal (lebih kering), 245 ZOM (35,1 %) berada pada kondisi normal, dan hanya 3 ZOM (0,4 %) – terpusat di Gorontalo dan Sulawesi Tenggara – berpotensi mengalami kemarau lebih basah dari biasanya.
Durasi kemarau juga diperkirakan lebih panjang pada 57,2 % wilayah, menambah tekanan pada sumber daya air dan sektor pertanian.
Implikasi bagi pertanian dan mitigasi
Dengan curah hujan yang diperkirakan menurun, BMKG mengimbau petani untuk menyesuaikan jadwal tanam, mempercepat penanaman varietas tahan kering, serta meningkatkan penggunaan teknologi irigasi hemat air. Pemerintah daerah diminta memperkuat infrastruktur penyimpanan air, seperti bendungan kecil dan waduk, serta melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk mengantisipasi risiko kebakaran hutan (karhutla) terutama di wilayah Sumatra dan Kalimantan.
Proyeksi IOD dan kondisi lautan
Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi tetap pada fase netral sepanjang tahun 2026, sehingga tidak memberikan kontribusi signifikan terhadap peningkatan atau penurunan curah hujan di wilayah Indonesia.
Secara keseluruhan, prediksi BMKG menandakan bahwa musim kemarau 2026 akan datang lebih cepat, lebih kering, dan lebih lama daripada siklus sebelumnya. Pemerintah, sektor pertanian, serta masyarakat luas diimbau untuk meningkatkan kesiapsiagaan, memperkuat manajemen sumber daya air, dan memantau perkembangan El Nino secara berkala guna meminimalkan dampak ekonomi dan sosial.
