BGN Perketat Transparansi MBG: Wajib Unggah Menu, Gizi, Harga & Kontroversi Lele Mentah di SMA Pamekasan

IPD – 10 Maret 2026 | Balikpapan, 10 Maret 2026 – Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat kebijakan transparansi program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menginstruksikan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk membuat akun media sosial resmi. Akun tersebut wajib menampilkan rincian menu, kadar gizi, serta harga makanan yang disalurkan kepada penerima manfaat, mulai dari bayi, siswa, ibu hamil, hingga ibu menyusui.

Langkah Transparansi Melalui Media Sosial

Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sonjaya, menjelaskan bahwa platform digital akan menjadi jembatan komunikasi antara SPPG dan masyarakat. “Setiap SPPG harus memiliki akun media sosial yang menampilkan menu makanan, kadar gizi, dan harga. Ini membantu masyarakat mengetahui apa yang mereka terima dan menilai kualitasnya,” ujarnya. Dengan menampilkan data harga, BGN berupaya menghindari kesalahpahaman terkait alokasi anggaran dan memastikan akuntabilitas penggunaan dana publik.

Selain informasi menu, akun media sosial juga menjadi kanal bagi warga untuk menyampaikan protes atau kritik secara langsung. “Jika ada menu yang tidak layak, masyarakat dapat mengungkapkannya di platform tersebut, dan SPPG wajib menanggapi dengan cepat,” tambah Sony. Kebijakan ini diharapkan mengurangi penyebaran rumor yang biasanya muncul di media sosial tanpa verifikasi.

Kontroversi Video Viral: Lele Mentah di SMA Pamekasan

Pada 9 Maret 2026, sebuah video beredar luas menampilkan paket MBG yang ditolak oleh SMA Negeri 2 Pamekasan, Jawa Timur. Dalam video tersebut terlihat satu kotak berisi ikan lele mentah yang masih bergerak, dicampur dengan potongan tahu dan tempe. Pihak sekolah menilai kondisi lele yang masih hidup berpotensi menimbulkan bau amis, pembusukan, serta risiko kesehatan bagi siswa.

Menanggapi kejadian tersebut, BGN segera mengeluarkan klarifikasi. Wakil Kepala BGN bidang Komunikasi Publik, Nanik Sudaryati Deyang, menyatakan bahwa lele yang terlihat mentah merupakan lele marinasi yang direncanakan untuk dimasak oleh siswa atau orang tua di rumah saat berbuka puasa. “Lele tersebut tidak dimaksudkan untuk langsung dikonsumsi, melainkan dipersiapkan agar tahan lebih lama dan tetap mempertahankan nilai gizinya,” ujarnya.

Menurut penjelasan tim SPPG Pamekasan Pademawu Buddagan, paket lengkap MBG mencakup lele marinasi, tahu dan tempe ungkep, roti pizza, telur rebus, susu full cream, serta buah naga. Namun, pada saat distribusi, pihak sekolah menolak mengambil paket karena khawatir lele mentah dapat membusuk dan mencemari makanan lain dalam satu kotak.

Reaksi Sekolah dan Upaya Perbaikan

Kepala SMA Negeri 2 Pamekasan, Moh Arifin, menegaskan penolakannya atas 1.022 porsi paket MBG untuk tanggal 9–11 Maret 2026. Ia menilai bahwa lele yang masih hidup dapat menimbulkan bahaya kesehatan, terutama bila tidak segera dimasak. “Kami tidak bisa mengambil risiko membiarkan ikan mentah berada di dalam kotak makanan siswa,” kata Arifin.

Setelah klarifikasi BGN, SPPG berjanji akan melakukan evaluasi prosedur penyiapan dan distribusi paket MBG. Ahli gizi SPPG, Fikri Kuttawakil, menjelaskan bahwa penggunaan lele marinasi bertujuan meningkatkan kandungan protein serta memperpanjang daya simpan makanan hingga satu hari. “Marinasi membantu menjaga kualitas gizi lele, sehingga tetap bernilai nutrisi tinggi saat dimasak nanti,” tambahnya.

Implikasi Kebijakan Baru BGN

Kebijakan unggah menu, gizi, dan harga di media sosial diharapkan memberi manfaat ganda. Pertama, masyarakat dapat memantau kualitas makanan yang diterima, termasuk kepatuhan pada standar keamanan pangan. Kedua, transparansi harga membantu mengawasi penggunaan dana MBG yang bersumber dari APBN, sehingga mengurangi potensi korupsi atau penyalahgunaan.

Langkah ini juga memberi ruang bagi warga untuk memberikan masukan konstruktif. Sejak peluncuran kebijakan, beberapa SPPG melaporkan peningkatan interaksi publik melalui komentar, foto, atau pertanyaan mengenai kandungan gizi tertentu. BGN menegaskan bahwa meskipun kritik dapat bersifat viral, tujuan utama tetap pada perbaikan layanan, bukan sekadar sensasi.

Selain itu, BGN menegaskan tidak ada larangan bagi masyarakat untuk menyebarkan informasi tentang MBG di platform lain. Namun, mereka mengingatkan bahwa penyebaran konten harus tetap berlandaskan fakta, mengingat potensi dampak negatif terhadap reputasi program.

Dengan menempatkan transparansi sebagai pilar utama, BGN berharap program MBG dapat terus meningkatkan kualitas gizi anak-anak Indonesia serta memperkuat kepercayaan publik terhadap kebijakan sosial pemerintah.

Secara keseluruhan, kebijakan baru BGN tentang media sosial dan klarifikasi terkait lele marinasi mencerminkan upaya serius untuk menjamin keamanan pangan, akuntabilitas penggunaan anggaran, dan keterlibatan aktif masyarakat dalam program Makan Bergizi Gratis.

Leave a Comment