IPD – 11 Maret 2026 | Hujan lebat yang melanda wilayah Banten pada akhir pekan ini kembali memicu banjir bandang di beberapa wilayah Tangerang, terutama di Kelurahan Petir, Kecamatan Cipondoh. Tinggi air mencapai 1,2 meter di sebagian besar rumah warga, menyisakan genangan yang masih belum sepenuhnya surut pada Senin (9 Maret 2026). Situasi mengkhawatirkan ini menambah beban warga menjelang perayaan Hari Raya Idulfitri.
Skala Dampak dan Kondisi di Lapangan
Menurut laporan lapangan, lebih dari ratusan rumah warga di empat rukun warga (RW 03, 05, 06, dan 07) mengalami genangan air dengan ketinggian bervariasi, mulai dari 20 sentimeter hingga lebih dari satu meter. Lurah Petir, Budi Wasono, menyebutkan total 300 KK terdampak di RW 06, 200 KK di RW 07, serta sekitar 350 KK di RW 03 dan RW 05. Sekitar 50 warga terpaksa mengungsi ke masjid, tempat pemotongan hewan, dan balai warga setempat.
Salah satu warga, Suprapto, mengungkapkan bahwa banjir mulai terjadi sejak Minggu pagi akibat intensitas hujan tinggi serta meluapnya Kali Angke. “Awalnya ketinggian air mencapai dua meter, kini sudah surut menjadi sekitar satu meter,” ujarnya. Beberapa rumah berlantai dua masih dapat ditempati di lantai atas, sementara lantai dasar tetap terendam.
Upaya Penanganan dan Relawan
Tim BPBD Kota Tangerang bersama Dinas PUPR, Dinas Lingkungan Hidup, dan relawan lokal telah mengerahkan puluhan pompa air serta perahu karet untuk mengevakuasi warga. Di lokasi Cipondoh, relawan menjemput warga yang harus beraktivitas sehari-hari dengan perahu karet, sementara di daerah Periuk—yang masih mengalami genangan hingga 4 meter—pompa air berjumlah dua puluh unit beroperasi secara terus-menerus.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Tangerang, Andia S. Rahman, melaporkan bahwa pada Selasa (10 Maret) ketinggian air di Periuk Damai sudah turun menjadi 400 sentimeter, namun masih menghambat mobilitas. Di beberapa kawasan lain seperti Villa Mutiara Pluit dan Total Persada Raya, ketinggian air tetap berada di kisaran 2‑3 meter.
Faktor Penyebab dan Tantangan Teknis
Analisis awal menunjukkan bahwa banjir ini dipicu oleh kombinasi curah hujan tinggi dan meluapnya beberapa sungai, termasuk Kali Angke, Kali Sabi, dan Sungai Cirarab. Penumpukan sampah di sepanjang bantaran sungai serta kurangnya pemeliharaan tanggul memperparah situasi. Beberapa pompa air sempat tidak dapat dioperasikan karena listrik padam, sehingga koordinasi dengan PLN menjadi prioritas utama.
Selain masalah teknis, kondisi cuaca yang belum menentu menimbulkan kekhawatiran akan terjadinya banjir susulan. Warga mengkhawatirkan bahwa air dapat kembali naik menjelang akhir pekan Idulfitri, mengingat pola banjir di wilayah ini biasanya terjadi dua kali dalam sebulan.
Respon Pemerintah dan Harapan Warga
Pemerintah Kota Tangerang telah mendirikan Posko Lapangan Terpadu di kawasan Periuk untuk mempercepat penanganan teknis dan distribusi bantuan. Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang, Mahdiar, menegaskan bahwa seluruh titik genangan di 11 kecamatan kini sudah berangsur surut, kecuali sebagian kecil di Periuk.
Warga menuntut langkah konkrit, seperti meninggikan tanggul, pengerukan sungai secara rutin, dan pembangunan infrastruktur drainase yang memadai. “Kami butuh solusi jangka panjang, bukan sekadar penanggulangan sementara,” kata seorang warga lain yang tidak disebutkan namanya.
Secara keseluruhan, meskipun kondisi air sudah mulai menurun, dampak sosial‑ekonomi masih signifikan. Lebih dari 13.000 jiwa terdampak, dengan 6.842 orang telah dievakuasi ke lokasi aman. Kegiatan ekonomi lokal terhenti, transportasi terganggu, dan akses ke layanan dasar seperti listrik serta air bersih masih terbatas.
Dengan Idulfitri yang semakin dekat, upaya penyelamatan, pembersihan, dan rehabilitasi menjadi prioritas utama bagi pemerintah daerah, aparat keamanan, serta masyarakat setempat. Keberhasilan penurunan air dan pemulihan infrastruktur akan sangat menentukan tingkat kesiapan warga dalam menyambut hari raya.
