IPD – 14 April 2026 | San Siro menjadi saksi bisu kehancuran AC Milan pada Sabtu, 11 April 2026, ketika tim tuan rumah dibantai Udinese dengan skor 0-3. Kekalahan telak ini tidak hanya menurunkan moral pemain, tetapi juga memperlebar jurang poin di papan klasemen Serie A 2025/2026, mengancam peluang Rossoneri untuk kembali ke empat besar dan mengamankan tiket Liga Champions.
Masalah yang diangkat oleh legenda sepakbola Italia, Fabio Capello, bukan sekadar pilihan formasi. Dari tribun, Capello menyoroti dua faktor utama yang membuat Milan tak mampu bersaing: tempo permainan lawan yang lebih cepat dan krisis mentalitas dalam skuad. “Udinese satu setengah kali lebih cepat,” ujar Capello dalam wawancara dengan La Gazzetta dello Sport, menambahkan bahwa kecepatan mereka dalam setiap duel, baik menyerang maupun bertahan, membuat taktik apapun yang diterapkan Milan menjadi tak berdaya.
Berikut beberapa poin penting yang diungkap Capello dan analis lain terkait pertandingan tersebut:
- Tempo vs. Formasi: Meskipun pelatih Massimiliano Allegri mengganti formasi dari 3-5-2 ke 4-3-4 menjelang babak kedua, Capello menegaskan bahwa perubahan taktik tidak menyelesaikan masalah inti. Kecepatan Udinese yang agresif tetap mendominasi, memaksa Milan bermain dalam ritme yang lebih lambat.
- Krisis mentalitas: Capello menilai mental pemain Milan terfokus pada kompetisi domestik, tanpa ambisi yang kuat untuk bersaing di level Eropa. Hal ini tercermin dari sorotan terhadap pemain seperti Rafael Leão, yang menurut Capello “tidak lagi memiliki kecepatan seperti dulu” dan gagal menembus pertahanan lawan.
- Kesalahan individual: Gol pertama Udinese muncul akibat kegagalan pertahanan Davide Bartesaghi dalam mengantisipasi crossing Arthur Atta, menghasilkan gol bunuh diri. Gol kedua diciptakan oleh Jurgen Ekkelenkamp yang menanduk crossing Nicolo Zaniolo. Gol ketiga datang dari tendangan tajam Atta yang menipu kiper Mike Maignan.
- Reaksi suporter: Penonton San Siro mengeluarkan siulan dan sorakan keras kepada pemain, terutama Rafael Leão, menandakan ketidakpuasan publik terhadap penampilan tim.
Statistik pertandingan menegaskan dominasi Udinese: penguasaan bola 58%, tembakan tepat sasaran 7 dibandingkan 2 milik Milan, serta 15 duel udara yang dimenangkan Udinese. Sementara itu, Milan hanya mencatat tiga tembakan ke arah gawang lawan dan gagal menciptakan peluang nyata.
Kekalahan ini menjadi yang ketiga dalam sejarah pertemuan Udinese vs Milan dengan selisih lebih dari satu gol, setelah pertemuan leg kedua Coppa Italia 2005 dan pertemuan sebelumnya di musim 2022/2023. Pada laga tersebut, Udinese berhasil menumpas Milan berkat serangan balik cepat dan ketidaksempurnaan dalam transisi pertahanan.
Dengan hasil ini, jarak poin antara Milan dan juara sementara Juventus menyusut menjadi lima poin, sedangkan tim-tim pesaing lain seperti Napoli dan Inter Milan berada dalam posisi yang lebih menguntungkan. Bagi Allegri, perubahan taktik di babak kedua—menarik keluar bek Zachary Athekame dan menurunkan striker Niclas Fuellkrug—tidak membuahkan hasil, karena Udinese tetap menahan serangan Milan dengan pertahanan yang disiplin.
Ke depan, Milan harus melakukan perbaikan menyeluruh. Capello menekankan bahwa pemulihan harus dimulai dari mentalitas pemain, mengembalikan semangat juang, serta meningkatkan kecepatan transisi dalam menyerang. Tanpa perubahan mendasar, peluang Rossoneri untuk lolos ke Liga Champions akan semakin tipis.
Dalam rangka menutup analisis, berikut rangkuman tindakan yang perlu diambil Milan menjelang pekan berikutnya:
- Meninjau kembali pola latihan untuk meningkatkan kecepatan individu dan kolektif.
- Memperkuat mentalitas kompetitif dengan pendekatan psikologis dan kepemimpinan dalam grup.
- Mempertimbangkan rotasi pemain yang lebih fleksibel untuk mengatasi kelelahan dan menstabilkan performa lini depan.
- Mengoptimalkan peran gelandang kreatif dalam menghubungkan serangan dan pertahanan, mengurangi ketergantungan pada kecepatan sayap.
Jika Milan dapat mengimplementasikan perubahan ini secara konsisten, mereka masih memiliki kesempatan untuk memperkecil jarak dengan pemuncak klasemen dan mengamankan tiket Liga Champions untuk musim berikutnya. Namun, tantangan kini tidak hanya berada di atas lapangan, melainkan pada kemampuan tim untuk bangkit dari kegagalan dan mengembalikan kepercayaan suporter yang kini terdengar keras di San Siro.
