Kredit Perbankan Melambat ke 9,37%: Allo Bank Cetak Pertumbuhan Double Digit di Tengah Perlambatan Industri

IPD – 14 April 2026 | Jakarta, 13 April 2026 – Industri perbankan Indonesia mencatat perlambatan pertumbuhan kredit secara keseluruhan, dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kenaikan hanya 9,37% secara tahunan hingga Februari 2026. Meskipun angka tersebut berada di bawah ekspektasi pertumbuhan dua digit, beberapa bank berhasil menorehkan kinerja yang menonjol. Salah satunya adalah Allo Bank Indonesia Tbk yang berhasil meningkatkan portofolio kreditnya sebesar 20,3% YoY menjadi Rp 8,38 triliun.

Digital Strategy Head Allo Bank, Destya D. Pradityo, menjelaskan bahwa keunggulan kompetitif bank ini terletak pada model bisnis berbasis ekosistem digital dan penerapan penyaluran kredit yang didorong oleh data (data‑driven lending). Segmen utama pertumbuhan berasal dari kredit konsumsi digital, khususnya produk Buy Now Pay Later (BNPL) atau PayLater, serta pinjaman ritel yang berbasiskan transaksi harian nasabah.

Berikut rangkuman data pertumbuhan kredit perbankan pada periode yang sama:

EntitasPertumbuhan YoYVolume Kredit (Rp Triliun)
Industri Perbankan (OJK)9,37%–
Allo Bank20,3%8,38

Produk dengan tenor pendek dan berbasis kebutuhan konsumsi harian menjadi kontributor terbesar bagi pertumbuhan kredit Allo Bank. Menurut Destya, proses yang cepat dan seamless serta kesesuaian dengan perilaku transaksi digital nasabah menjadikan produk ini sangat relevan. “Produk dengan tenor pendek dan berbasis kebutuhan konsumsi harian masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan kredit. Selain prosesnya cepat dan seamless, produk ini juga relevan dengan perilaku transaksi nasabah digital saat ini,” ujarnya dalam wawancara dengan Kontan pekan lalu.

Allo Bank juga mencatat tren positif dari permintaan kredit baik dari nasabah existing maupun pengguna baru dalam ekosistemnya. Namun, manajemen tidak menutup mata terhadap risiko eksternal, termasuk ketidakpastian global dan potensi perlambatan ekonomi domestik yang dapat menurunkan daya beli serta kualitas kredit.

Untuk menjaga kualitas portofolio, bank mengadopsi prinsip pertumbuhan yang prudensial. Langkah‑langkah yang diambil meliputi:

  • Pengetatan credit scoring dan underwriting berbasis data transaksi.
  • Pemantauan early warning signal secara real‑time.
  • Pengelolaan limit kredit secara dinamis.
  • Penguatan proses penagihan (collection) dan pengingat digital.

“Dengan pendekatan tersebut, kami berupaya menjaga agar pertumbuhan kredit tetap berkualitas dan risiko tetap terkendali,” tambah Destya.

Prospek ke depan tetap optimis, meski laju pertumbuhan diperkirakan lebih selektif dan terukur dibandingkan periode ekspansi sebelumnya. Beberapa katalis yang diprediksi mendukung pertumbuhan meliputi momentum konsumsi pasca Lebaran, peningkatan utilisasi PayLater, pertumbuhan nasabah aktif, serta kondisi makroekonomi dan suku bunga yang relatif stabil.

Allo Bank menegaskan fokus tidak hanya pada volume kredit, tetapi juga pada kesehatan portofolio. Upaya ini mencakup monitoring kualitas aset secara berkelanjutan, penyesuaian kebijakan kredit yang responsif terhadap perubahan perilaku konsumen, serta inovasi produk digital yang dapat menambah nilai bagi nasabah.

Secara keseluruhan, meskipun industri perbankan Indonesia menghadapi perlambatan, Allo Bank menunjukkan bahwa strategi digital yang terintegrasi dan manajemen risiko yang ketat dapat menghasilkan pertumbuhan kredit yang kuat dan berkelanjutan. Hal ini menjadi contoh bagi lembaga keuangan lain yang ingin tetap kompetitif di era digital yang semakin maju.

Dengan mengedepankan data, teknologi, dan disiplin risiko, Allo Bank berharap dapat mempertahankan pertumbuhan positif hingga akhir 2026, sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain utama dalam ekosistem keuangan digital Indonesia.

Leave a Comment