IPD – 31 Mei 2026 | Konflik antara Israel dan Lebanon kembali memanas setelah Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, menginstruksikan militer Israel untuk mengambil alih 70 persen wilayah Gaza. Ini dilaporkan setelah Israel dinilai terus memperluas kendali wilayahnya di Gaza, meskipun rencana perdamaian 20 poin yang diusulkan oleh Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, telah ditandatangani pada 9 Oktober 2025.
Rencana perdamaian tersebut semula mengatur penarikan pasukan Israel ke belakang “Garis Kuning”, dengan Israel tetap menguasai 58 persen wilayah Gaza sebelum penarikan penuh dilakukan pada tanggal yang belum ditentukan. Namun, penarikan itu belum terjadi hingga beberapa bulan setelah kesepakatan diumumkan.
Israel justru disebut memperluas wilayah yang dikendalikannya sekitar 11 persen selama masa yang disebut sebagai “gencatan senjata“. Dalam periode yang sama, serangan Israel hampir setiap hari dilaporkan menewaskan setidaknya 922 orang di Gaza.
Data satelit yang dikumpulkan pada Maret menunjukkan Israel telah membangun sedikitnya 32 pos militer, penghalang darat, dan infrastruktur di sepanjang garis yang semula disebut bersifat sementara. Pembangunan itu memunculkan pertanyaan baru mengenai apakah kehadiran militer Israel di Gaza memang hanya sementara atau menjadi bagian dari rencana kendali jangka panjang.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, mengatakan Israel saat ini “menekan Hamas” dan telah mengendalikan 60 persen wilayah Jalur Gaza. Ia menyebut Israel sebelumnya menguasai 50 persen wilayah Gaza, lalu memberi arahan agar pasukan Israel bergerak lebih jauh.
Penarikan pasukan Israel dari Gaza belum terjadi hingga beberapa bulan setelah kesepakatan diumumkan. Israel justru disebut memperluas wilayah yang dikendalikannya sekitar 11 persen selama masa yang disebut sebagai “gencatan senjata”. Dalam periode yang sama, serangan Israel hampir setiap hari dilaporkan menewaskan setidaknya 922 orang di Gaza.
Konflik antara Israel dan Lebanon kembali memanas setelah Israel mengambil alih Beaufort Castle, sebuah lokasi strategis di selatan Lebanon, sebagai bagian dari operasi militer mereka melawan Hezbollah. Ini menandai eskalasi konflik antara Israel dan Lebanon, yang telah berlangsung sejak 2006.
Penangkapan Beaufort Castle oleh pasukan Israel menunjukkan niat Israel untuk memperkuat kendali militer di wilayah tersebut. Ini juga menimbulkan pertanyaan tentang rencana Israel untuk memperluas wilayah yang dikendalikannya di Gaza dan Lebanon.
Konflik antara Israel dan Lebanon memiliki implikasi yang luas bagi keamanan regional dan perdamaian di Timur Tengah. Ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang potensi eskalasi konflik lebih lanjut dan dampaknya terhadap warga sipil di wilayah tersebut.
