IPD – 12 April 2026 | Barcelona mengalami kegagalan pahit pada leg pertama perempat final Liga Champions melawan Atletico Madrid, yang berakhir dengan skor 2-0. Insiden paling menonjol adalah pengusiran Pau Cubarsi pada menit-menit awal babak pertama setelah menerima kartu merah atas pelanggaran terhadap Giuliano Simeone. Keputusan wasit yang dianggap terlalu keras oleh mantan legenda Barcelona, Thierry Henry, menjadi titik balik utama dalam pertandingan.
Menurut Thierry Henry, pelanggaran Cubarsi seharusnya cukup dihukum kartu kuning, bukan merah. “Bola tidak sepenuhnya terkendali, sudutnya tidak sempurna, dan masih ada jarak ke gawang. Apakah kita yakin dia akan mencetak gol? Saya tidak yakin,” ungkap Henry dalam sebuah wawancara. Ia menilai wasit terlalu cepat mengambil keputusan, padahal di Liga Champions setiap keputusan harus didasarkan pada kepastian 100 persen.
Keputusan tersebut memaksa Barcelona bermain dengan sepuluh pemain. Setelah pengusiran Cubarsi, Atletico Madrid meningkatkan intensitas serangan dan berhasil mencetak dua gol, mengamankan keunggulan dua gol tanpa balas. Sebelum insiden, Barcelona masih mampu menahan serangan Atletico dan menjaga keseimbangan permainan, namun kehilangan satu pemain bertahan membuat lini pertahanan rapuh.
Pengusiran Cubarsi tidak hanya memengaruhi hasil leg pertama, tetapi juga menimbulkan konsekuensi bagi leg kedua. Pemain muda asal Spanyol itu dipastikan absen pada pertandingan balik karena skorsing, meninggalkan Hansi Flick tanpa salah satu bek andalannya. Sebelumnya, Cubarsi bersama Ronald Araujo dijadikan duet menara kembar yang diharapkan menjadi tulang punggung pertahanan Barcelona, sebagaimana disebutkan dalam prediksi lineup melawan Espanyol. Ketidakhadirannya menambah beban bagi pertahanan yang harus menghadapi serangan tajam Atletico Madrid.
Thierry Henry menekankan bahwa keputusan kartu merah mengubah jalannya pertandingan secara drastis. “Menurut saya, itu kartu kuning, bukan kartu merah. Karena begitu dia dikeluarkan, seluruh jalannya pertandingan berubah. Dan di Liga Champions, Anda harus 100 persen yakin. Saya rasa wasit terlalu cepat bertindak,” tegas Henry.
Selain dampak taktis, keputusan tersebut juga menimbulkan spekulasi mengenai konsekuensi disipliner. Wasit asal Rumania, Istvan Kovacs, menjadi sorotan setelah mengeluarkan kartu merah pada pemain terakhir di lini belakang yang dianggap menghalangi peluang emas Atletico. Keputusan ini menambah tekanan pada otoritas kompetisi untuk meninjau prosedur penilaian pelanggaran pada situasi krusial.
Hansi Flick, pelatih Barcelona, kini harus menyiapkan strategi alternatif untuk leg kedua. Tanpa Cubarsi, opsi pengganti di lini belakang termasuk menurunkan pemain cadangan atau mengubah formasi menjadi tiga bek dengan menambah pemain tengah. Fleksibilitas taktis menjadi kunci, mengingat Atletico Madrid dikenal sulit dibongkar ketika berada di atas papan skor.
Di sisi lain, Atletico Madrid memanfaatkan keunggulan angka dan menegaskan dominasi mereka. Gol pertama tercipta lewat serangan cepat yang memanfaatkan ruang setelah pengusiran Cubarsi, sementara gol kedua didapatkan dari tendangan sudut yang dieksekusi dengan presisi. Kedua gol tersebut menegaskan pentingnya konsistensi dalam mempertahankan keunggulan, terutama dalam laga berformat dua kaki.
Meski kalah, Barcelona tetap memiliki peluang untuk bangkit pada leg kedua. Namun, mereka harus mengatasi kerugian mental akibat pengusiran dan menyesuaikan taktik tanpa salah satu bek utama. Jika Hansi Flick dapat menata kembali lini belakang dan memanfaatkan kreativitas pemain tengah, peluang memperkecil defisit masih terbuka. Namun, tanpa Cubarsi, tekanan pada pertahanan meningkat secara signifikan.
Kesimpulannya, kartu merah Pau Cubarsi menjadi momen kritis yang mengubah arah pertandingan antara Barcelona dan Atletico Madrid. Pendapat Thierry Henry menegaskan bahwa keputusan tersebut terlalu keras dan berpengaruh besar pada hasil akhir. Barcelona kini harus menghadapi leg kedua dengan skuad yang kurang lengkap, sementara Atletico Madrid berusaha mempertahankan keunggulan mereka untuk melaju ke semifinal Liga Champions.
