IPD – 08 Juni 2026 | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih terus mengalami tekanan pada awal perdagangan Senin, 8 Juni 2026. IHSG turun 2,87% ke level 5.434,30, sementara indeks LQ45 juga ikut turun sebesar 2,77% ke posisi 542,32. Pelemahan ini dipicu oleh aksi lepas saham perbankan besar serta depresiasi Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat.
Nilai tukar Rupiah dilaporkan melemah tipis hingga melampaui level psikologis baru dengan menyentuh kisaran Rp18.121 hingga Rp18.169 per Dolar AS. Secara akumulatif, kejatuhan nilai tukar Rupiah terpantau telah ambles lebih dari 10% jika dihitung sejak awal tahun.
Sektor perbankan raksasa yang biasanya menjadi motor penggerak indeks justru menjadi lagging movers utama akibat aksi lepas saham oleh investor global. Selain sektor perbankan, saham telekomunikasi pelat merah PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) juga menjadi penekan utama pergerakan indeks setelah harganya longsor sebesar 11,96% ke level Rp2,430.
Analis pasar modal Hendra Wardana menilai tekanan yang terjadi di pasar keuangan Indonesia mencerminkan proses repricing atau penyesuaian ulang risiko Indonesia di mata investor global. Menurut dia, pelemahan rupiah, koreksi tajam IHSG, dan berlanjutnya arus keluar dana asing menunjukkan investor kini menuntut premi risiko yang lebih tinggi untuk berinvestasi di Indonesia.
Faktor domestik kini semakin dominan memengaruhi pergerakan pasar dibandingkan beberapa tahun lalu. Meski suku bunga tinggi di Amerika Serikat, penguatan dolar AS, dan ketegangan geopolitik masih menjadi tekanan global, investor mulai lebih selektif dalam memilih negara berkembang yang dinilai memiliki kepastian kebijakan dan risiko fiskal yang lebih rendah.
Bagi investor jangka menengah, manfaatkan momentum ini untuk selektif mencermati saham-saham big caps di sektor perbankan dan consumer staples yang valuasinya sudah sangat atraktif secara historis, namun tetap masuk secara bertahap dengan alokasi porsi kecil sembari menunggu kepastian arah kebijakan moneter BI.
Kesimpulan, IHSG yang masih lesu dan Rupiah yang melemah membuat investor perlu lebih selektif dalam menyusun strategi investasi. Dengan menerapkan strategi defensif dan mengurangi eksposur pada saham berkapitalisasi kecil dan menengah, investor dapat menghindari risiko yang tidak perlu di tengah tren pasar yang masih lemah.
