HUT ke-74 Kopassus: Sejarah Markas Grup-2 di Kartasura, Tema “Garda Senyap Untuk Negeri”, dan Jejak Legendaris Benny Moerdani

IPD – 17 April 2026 | Jakarta, 16 April 2026 – Pada hari ini TNI Angkatan Darat merayakan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Korps Pasukan Khusus (Kopassus). Perayaan ini tidak sekadar menandai 74 tahun eksistensi unit elit, tetapi juga mengingat jejak sejarah panjang, peran strategis dalam menjaga kedaulatan, serta kisah heroik para pahlawan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas korps. Tema peringatan tahun ini, “Garda Senyap Untuk Negeri”, menegaskan komitmen Kopassus untuk terus beroperasi dengan sigap, presisi, dan dedikasi tinggi dalam menghadapi ancaman keamanan baik di dalam maupun luar negeri.

Sejarah Kopassus bermula pada 16 April 1952, ketika Kolonel Alex Kawilarang mendirikan Kesatuan Komando (Kesko) Tentara Teritorium III/Siliwangi. Komandan pertama Kesko TT III ditugaskan kepada Mochamad Idjon Djanbi, seorang mantan anggota Korps Speciale Troepen Kerajaan Belanda yang pernah berjuang dalam Perang Dunia II. Pada tahun 1953, Kesko berubah nama menjadi Korps Komando Angkatan Darat (KKAD) dan berada langsung di bawah Mabes Angkatan Perang Republik Indonesia (APRI). Selama fase awal, pasukan elite ini masih mengenakan baret cokelat, namun pada 25 Juli 1955 baret merah pertama kali dikenakan, menandai simbol keberanian dan semangat juang yang kini dikenal luas.

Pada 1959, KKAD bertransformasi menjadi Resimen Para Komando Angkatan Darat dengan markas baru di Cijantung, Jakarta Timur. Perubahan nama selanjutnya meliputi Pusat Pasukan Khusus (Puspasus) pada 1966, Kopassandha pada 1971, dan akhirnya Kopassus pada 26 Desember 1986. Meski nama berubah-ubah, inti misi tetap konsisten: menjadi unit khusus yang siap melakukan operasi rahasia, kontra‑terorisme, serta misi‑misi kritis yang memerlukan keahlian tingkat tinggi.

Salah satu lokasi ikonik dalam perjalanan Kopassus adalah markas Grup‑2 di Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Karena kondisi geografis dan fasilitas latihannya yang menantang, markas ini sering dijuluki “kandang menjangan”. Julukan tersebut mencerminkan lingkungan keras yang dirancang untuk mengasah ketangguhan fisik dan mental prajurit, sekaligus menumbuhkan semangat kebersamaan di antara anggota. Selama dekade terakhir, Kartasura menjadi pusat pelatihan utama bagi unit‑unit khusus, termasuk program penyisihan psikologis, teknik pertempuran urban, serta latihan survival di hutan belantara.

Perayaan HUT ke‑74 juga dimeriahkan oleh fenomena media sosial. Ribuan warganet berbondong‑bondong mengunduh dan menggunakan Twibbon khusus HUT Kopassus 2026 untuk foto profil di Instagram, status di WhatsApp, maupun unggahan di platform lainnya. Tema “Garda Senyap Untuk Negeri” terpampang jelas pada desain Twibbon, menampilkan siluet prajurit dengan baret merah ikonik dan latar belakang peta Indonesia. Meskipun pilihan desain beragam, banyak pengguna yang mengkustomisasi Twibbon lewat aplikasi desain seperti Canva agar tampilan lebih personal.

Tak kalah penting, peringatan tahun ini juga mengingatkan kembali akan aksi‑aksi heroik yang melukiskan Kopassus sebagai pasukan elit berjiwa baja. Salah satu kisah yang terus menginspirasi generasi baru adalah keberanian Jenderal Benny Moerdani. Pada tahun 1962, saat masih menjabat sebagai Kapten di Resimen Para Komando (RPKAD), Moerdani memimpin Operasi Naga di Irian Barat. Operasi tersebut bertujuan menggagalkan rencana Belanda membentuk negara boneka di Papua. Dalam aksi berbahaya tersebut, Moerdani menjadi target utama pasukan elite Belanda, termasuk Special Air Service (SAS) dan marinir Koninklijke Mariniers. Meski menghadapi penyergapan intens, tim Naga yang dipimpin Moerdani berhasil menembus pertahanan Belanda di Merauke, menunjukkan ketangguhan dan taktik cerdas yang kemudian menjadi bahan pelajaran bagi Kopassus.

Kisah Benny Moerdani menegaskan bahwa Kopassus tidak hanya mengandalkan kekuatan fisik, tetapi juga strategi intelijen, keberanian dalam menghadapi ancaman eksternal, dan kemampuan beradaptasi di medan yang paling sulit. Nilai‑nilai tersebut kini menjadi bagian integral dalam kurikulum pelatihan di markas Kartasura, di mana setiap prajurit diwajibkan melewati serangkaian tes mental dan fisik yang menantang, termasuk latihan menembus rintangan, operasi malam, serta simulasi penyelamatan sandera.

Seiring berjalannya waktu, Kopassus terus menyesuaikan diri dengan dinamika keamanan modern. Tantangan baru seperti terorisme siber, ancaman maritim, serta operasi bantuan kemanusiaan menuntut kemampuan multilateral. Dalam konteks ini, tema “Garda Senyap Untuk Negeri” tidak hanya mengacu pada operasi militer tradisional, tetapi juga pada peran pasif‑aktif dalam menjaga stabilitas politik, melindungi warga sipil, serta mendukung upaya diplomasi pertahanan Indonesia.

Kesimpulannya, HUT ke‑74 Kopassus bukan sekadar perayaan angka, melainkan refleksi atas perjalanan panjang sebuah korps yang terus bertransformasi, beradaptasi, dan tetap setia pada sumpahnya sebagai garda senyap untuk negeri. Dari markas “kandang menjangan” di Kartasura, melalui warisan tokoh‑tokoh legendaris seperti Alex Kawilarang dan Benny Moerdani, hingga partisipasi digital warganet melalui Twibbon, semua unsur ini membentuk satu narasi kuat tentang dedikasi, keberanian, dan komitmen tak tergoyahkan terhadap kedaulatan Indonesia.

Leave a Comment