Hendra Setiawan Hadapi Tantangan Baru Sebagai Pelatih Tim Thomas Cup 2026 di Denmark

IPD – 18 April 2026 | Tim bulu tangkis Indonesia tiba di Horsens, Denmark pada 16 April 2026, bersiap menyongsong Thomas Cup-Uber yang berlangsung dari 24 April hingga 3 Mei. Di antara para pemain senior dan junior, nama Hendra Setiawan muncul dengan peran yang belum pernah ia jalani sebelumnya: pelatih tim ganda putra.

Legenda ganda putra yang mengukir emas Olimpiade Beijing 2008 ini mengaku tidak pernah membayangkan dirinya akan berada di bangku pelatih tepat satu tahun setelah mengumumkan pensiun pada awal 2025. “Enggak kepikiran sih sebenarnya, tapi ya ini panggilan jadi saya harus siap. Buat pengalaman saya sebagai pelatih,” ujarnya dalam pernyataan tertulis PBSI.

Berbeda dengan saat ia masih menjadi pemain, tugas sebagai pelatih menuntut Hendra untuk menilai kondisi fisik dan mental para pemain, memetakan lawan, serta menyusun strategi yang tepat. “Kalau saat jadi pemain kan langsung saja siap main, ya main. Sekarang kan harus lihat kondisi pemain juga, terus lawannya siapa, susahnya di situ,” jelasnya.

Sebagai pelatih ganda putra, Hendra dibantu oleh pelatih ganda PBSI, Antonius Budi Ariantho (Ko Anton). Kedua pelatih ini bersama-sama memetakan kombinasi pasangan yang akan bertanding, termasuk mengantisipasi kemungkinan tukar pasangan di tengah turnamen. Hendra menyatakan, “Ya ada pasti rencana tukar pasangan. Kalau dalam beregu kan pasti sudah siapkan Plan A, Plan B gitu-gitu sih.”

Pasangan yang paling menjadi sorotan adalah Sabar Karyaman Gutama dan Moh Reza Pahlevi Isfahani, duo muda yang baru saja menembus skuad Piala Thomas. Kedua pemain ini menyambut baik kesempatan yang diberikan, namun mengakui rasa tegang pada kompetisi pertama mereka. “Mudah-mudahan kami bisa memberikan kontribusi yang baik dan maksimal, bisa menyumbang poin,” kata Sabar. Reza menambahkan, “Pengalaman di SEA Games menjadi modal yang baik bagi kami, dan kami sudah berlatih di pelatnas sejak sebelum Kejuaraan Asia.”

Hendra menekankan pentingnya kesiapan mental dan kebersamaan tim. “Pasti daya juangnya harus lebih lagi karena main tim hasil kita akan berpengaruh juga untuk lainnya. Yang terpenting bagaimana lebih ke fokusnya masing-masing mereka,” ujarnya. Ia juga menekankan peran veteran dalam menularkan semangat juang kepada generasi muda.

Strategi yang direncanakan meliputi:

  • Analisis taktik lawan berdasarkan data pertandingan sebelumnya.
  • Rotasi pasangan ganda untuk menyesuaikan kondisi fisik selama turnamen.
  • Peningkatan kecepatan servis dan pertahanan net oleh pasangan muda.
  • Koordinasi intensif antara pelatih kepala, Ko Anton, dan tim medis.

Selain mengawasi pasangan utama, Hendra juga menyiapkan dua pasangan pelatnas lainnya: Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri dan Raymond Indra/Nikolaus Joaquin. Keberadaan mereka memberikan fleksibilitas taktis, memungkinkan Indonesia menyesuaikan formasi sesuai perkembangan pertandingan.

Menjadi pelatih pada kompetisi beregu menambah beban mental bagi Hendra. Ia mengaku merasa “lebih pusing” dibandingkan saat masih pemain, mengingat tanggung jawab mengatur strategi tim secara keseluruhan. “Ya maksudnya kan ini beregu, jadi kita harus kerja sama juga sama teman-teman yang lain,” ujarnya sambil menambahkan, “Saya baru pertama kali sebagai pelatih, jadi masih banyak yang harus belajar.”

Dengan pengalaman sebagai kapten tim yang menjuarai Thomas Cup 2020, Hendra berharap dapat menyalurkan kepemimpinan dan wawasan taktiknya kepada para pemain muda. Ia menutup dengan harapan, “Semoga tim Indonesia bisa merebut Piala Thomas 2026 dan menginspirasi generasi berikutnya untuk terus berprestasi di panggung dunia.”

Leave a Comment