IPD – 17 April 2026 | Pasangan mata uang GBP/JPY menunjukkan dinamika yang cukup menarik pada sesi perdagangan hari ini. Meskipun berhasil menembus zona intraday 215,65-215,70, pasangan ini segera kembali ke level terendah dalam rentang harian pada awal sesi Eropa, dan saat ini bertransaksi di sekitar 215,30-215,25. Pergerakan tersebut mencerminkan upaya para pelaku pasar untuk memanfaatkan kenaikan singkat, sementara batas bawah tetap memberikan perlindungan.
Berbagai faktor fundamental turut membentuk pola pergerakan GBP/JPY. Data Produk Domestik Bruto (PDB) Inggris yang dirilis Kamis lalu melampaui perkiraan, namun Pound Sterling (GBP) tetap berjuang menggalang minat pembeli. Salah satu penyebab utama adalah kekhawatiran yang menumpuk terkait konflik di Timur Tengah, khususnya potensi gangguan pada jalur pengiriman melalui Selat Hormuz. Menurut proyeksi Dana Moneter Internasional (IMF) April 2026, Inggris berada di posisi paling rentan di antara negara‑negara G7 terhadap dampak perang Iran, yang memicu penurunan tajam perkiraan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 menjadi 0,8 % dibandingkan 1,3 % pada Oktober 2025.
Penurunan ekspektasi pertumbuhan tersebut berdampak negatif pada sentimen terhadap GBP. Di sisi lain, Yen Jepang (JPY) mengalami tekanan tambahan akibat kekhawatiran atas gangguan logistik di Hormuz serta menurunnya ekspektasi pasar mengenai kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) pada bulan April. Kondisi ini menyebabkan JPY melemah, tetapi sekaligus menahan aksi jual agresif terhadap GBP/JPY karena para pedagang menunggu konfirmasi lebih kuat sebelum menurunkan pasangan ke zona korektif yang lebih dalam.
Berikut rangkuman faktor utama yang memengaruhi pergerakan GBP/JPY hari ini:
- Kenaikan intraday singkat: Pasangan mencapai 215,65-215,70 sebelum kembali turun ke batas bawah rentang harian.
- Data PDB Inggris: Meskipun hasil lebih baik dari perkiraan, GBP tetap tertekan oleh prospek pertumbuhan yang melemah dan kekhawatiran geopolitik.
- Risiko Selat Hormuz: Gangguan pengiriman memperburuk sentimen JPY, menahan pelemahan lebih lanjut.
- Ekspektasi BoJ: Penurunan harapan kenaikan suku bunga BoJ menurunkan daya tarik JPY.
Para analis menyarankan agar trader menunggu aksi jual yang lebih jelas sebelum menargetkan penurunan ke level kritis sekitar 216,00, yang merupakan puncak tertinggi sejak Juli 2008. Jika tekanan jual tidak muncul, pasangan dapat melanjutkan pergerakan lateral di kisaran 215,00-215,30, dengan potensi rebound jika data ekonomi positif muncul kembali atau jika sentimen risiko global berbalik.
Selain faktor fundamental, faktor teknikal juga memberikan petunjuk penting. Garis tren menurun yang terbentuk sejak awal pekan masih berfungsi sebagai resistance dinamis, sementara level support di 215,00 menjadi zona penting yang harus diuji. Indikator RSI berada di area netral, mengindikasikan belum ada momentum kuat ke arah mana pun. Oleh karena itu, trader disarankan untuk menggunakan pendekatan konservatif, mengatur stop‑loss yang ketat, dan memantau rilis data ekonomi selanjutnya, termasuk indeks harga konsumen (CPI) Inggris dan laporan manufaktur Jepang.
Kesimpulannya, GBP/JPY tetap berada di atas level 215,00 meskipun menghadapi sinyal yang beragam. Tekanan dari data ekonomi Inggris yang lemah, risiko geopolitik di Timur Tengah, dan ekspektasi suku bunga BoJ yang menurun menjadi faktor utama yang menahan kenaikan lebih lanjut. Trader perlu menunggu konfirmasi tambahan sebelum mengambil posisi signifikan, baik untuk melanjutkan koreksi ke bawah atau mengincar rebound menuju zona resistance berikutnya.
