IPD – 11 April 2026 | Flamengo mencatat kemenangan pertama di fase grup Copa Libertadores 2026 setelah mengalahkan Cusco FC dengan skor 2‑0 di Estádio Inca Garcilaso de la Vega, Cusco, Peru. Kedua gol datang dari Bruno Henrique dan Arrascaeta, yang masing‑masing menambah keunggulan tim asal Rio de Janeiro pada menit ke‑23 dan ke‑68. Kemenangan ini menandai kembalinya tim merah‑hitam ke puncak hasil positif di ketinggian setelah jeda lima tahun, mengingat tantangan fisik yang biasanya dirasakan oleh pemain saat bermain di atas 3.300 meter.
Pada awal pertandingan, kedua tim terlihat berusaha menyesuaikan diri dengan kondisi atmosfer tipis. Flamengo memanfaatkan kecepatan serangan baliknya, sementara Cusco FC berusaha menahan tekanan dengan formasi defensif. Pada menit ke‑23, Bruno Henrique menerima umpan pendek di sisi kiri, menembus pertahanan Cusco dan menempatkan bola ke sudut jauh gawang, mencetak gol pertama. Gol kedua tercipta pada menit ke‑68 setelah serangan terkoordinasi; Arrascaeta menembus ruang di tengah, menembak dengan kaki kiri yang menempel ke tiang gawang sebelum meluncur ke dalam jaringan.
Meski Flamengo mengendalikan alur permainan, pertandingan tidak lepas dari kontroversi yang memicu keluhan resmi dari Cusco FC. Tim Peru menuduh keputusan VAR tidak konsisten, terutama pada dua insiden penting. Pertama, pada fase akhir babak pertama, pemain Flamengo Gonzalo Plata menginjak sepatu lawan dengan keras, namun hanya diberikan kartu kuning. Kedua, pada menit ke‑52, gol potensial Cusco yang dicetak oleh Manzaneda dibatalkan setelah VAR menilai adanya offside milimeter, meski posisi pemain tampak seimbang. Cusco FC kemudian mengajukan permohonan resmi kepada CONMEBOL untuk mengakses rekaman keputusan VAR serta menuntut transparansi dalam penerapan protokol arbitrase.
- Keluhan utama: gol dibatalkan karena off‑side yang dipertanyakan.
- Keluhan kedua: tidak ada kartu merah atas pelanggaran serius oleh Gonzalo Plata.
- Permintaan: akses video keputusan VAR dan jaminan penerapan regulasi yang konsisten.
Insiden lain yang menarik perhatian publik terjadi pada babak kedua ketika pemain Cusco, Nico De La Cruz, terlibat konfrontasi dengan wasit Derlis López. Setelah terjadinya pelanggaran yang menimpa rekan setimnya, De La Cruz mendekati wasit dan menepuk peluit yang terletak di telinga wasit, mengekspresikan protesnya. Lucas Paquetá kemudian menariknya menjauh, namun tidak ada kartu kuning yang diberikan kepada De La Cruz. Kejadian ini menambah daftar peristiwa tak terduga yang memperkaya narasi pertandingan.
Setelah kemenangan, jadwal perjalanan Flamengo sempat mengalami penyesuaian. Tim harus meninggalkan Cusco pada pagi hari 9 April, menuju Arequipa sebagai titik transit, karena bandara Cusco tidak dapat menampung pesawat charter yang biasa dipakai klub. Rencana awal mengharapkan kedatangan di Rio de Janeiro pada sore hari, namun penerbangan tertunda dan tim baru mendarat di Galeão pada malam harinya. Penundaan ini berpotensi memengaruhi persiapan mereka menjelang pertemuan selanjutnya melawan Fluminense di Maracanã pada 11 April, yang pada akhirnya dijadwalkan ulang menjadi 12 April untuk memberikan waktu pemulihan dan adaptasi setelah perjalanan panjang.
Leonardo Jardim, pelatih Flamengo, menyatakan kepuasannya atas performa tim meski harus beradaptasi dengan ketinggian. “Kami menyiapkan taktik khusus untuk mengatasi penurunan oksigen, dan pemain menunjukkan disiplin tak taktik serta kebugaran yang luar biasa,” ujarnya dalam konferensi pers. Ia juga menegaskan pentingnya menanggapi keluhan Cusco secara profesional, mengingat integritas kompetisi bergantung pada kepercayaan terhadap keputusan arbitrase.
Kemenangan 2‑0 ini menempatkan Flamengo memimpin Grup A dengan tiga poin sempurna, sementara rival grup seperti Independiente Medellín dan Estudiantes berbagi poin dari hasil imbang 1‑1. Cusco FC tetap berada di posisi terbawah grup dengan nol poin, namun mereka menegaskan tekad untuk melanjutkan kampanye mereka di level tertinggi sepak bola Amerika Selatan.
Secara keseluruhan, laga antara Flamengo dan Cusco tidak hanya memperlihatkan kualitas teknis dan taktis, tetapi juga menyoroti tantangan logistik, regulasi VAR, serta dinamika emosional yang mewarnai kompetisi internasional. Dengan perjalanan kembali ke Brasil yang masih dipertimbangkan, Flamengo harus menyiapkan diri untuk menghadapi derby klasik melawan Fluminense, sementara Cusco FC berusaha memperbaiki performa dan menuntut keadilan dalam proses arbitrase.
