IPD – 20 April 2026 | Pasangan mata uang EUR/JPY tetap bertahan di kisaran 187,00 pada sesi perdagangan Eropa Senin lalu. Kenaikan ini didorong oleh pelemahan Yen Jepang yang semakin tertekan akibat lonjakan harga minyak mentah, sementara ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran kembali memanas. Kenaikan harga energi menambah beban impor bagi Jepang, yang sangat bergantung pada minyak Timur Tengah, sehingga memperlemah yen terhadap euro.
Sementara itu, Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan tsunami untuk tiga prefektur di wilayah utara—Hokkaido, Iwate, dan Aomori—setelah gempa bumi berkekuatan 7,5 magnitudo mengguncang kawasan Tohoku pada pukul 16:53 waktu setempat. Badan menyatakan bahwa gelombang tinggi hingga tiga meter dapat menghantam pantai, menimbulkan risiko signifikan bagi infrastruktur pesisir. Perusahaan Listrik Tohoku melaporkan sedang menilai dampak potensial terhadap pembangkit listrik tenaga nuklir Onagawa, yang berlokasi tidak jauh dari zona gempa.
Di pasar keuangan, spekulan kini memfokuskan perhatian pada kebijakan moneter. Bank Sentral Eropa (ECB) diperkirakan akan mempertimbangkan kenaikan suku bunga lebih lanjut tahun ini, seiring tekanan inflasi yang dipicu oleh biaya energi yang masih tinggi. Sementara itu, Gubernur Bank of Japan (BoJ), Kazuo Ueda, tetap berhati-hati; ia tidak memberikan sinyal kenaikan suku bunga pada pertemuan bulan April, meski pasar menunggu revisi proyeksi inflasi yang kemungkinan akan mencerminkan beban energi yang meningkat.
Situasi geopolitik tambahan muncul dari blokade Selat Hormuz yang diperbarui, yang menghambat aliran minyak dari Timur Tengah. Penurunan optimisme pasokan energi menambah kekhawatiran akan stagflasi di Zona Euro, memperkuat aliran modal ke euro sebagai aset yang relatif lebih aman dibandingkan yen. Kondisi ini memperdalam selisih suku bunga antara AS dan Jepang, meningkatkan daya tarik dolar AS terhadap yen, namun sebaliknya mendukung euro dalam pasangan EUR/JPY.
Trader forex kini menilai EUR/JPY melalui dua lensa utama: sentimen risiko global dan kebijakan bank sentral. Yen, yang biasanya berperan sebagai safe‑haven, kehilangan sebagian daya tariknya ketika pasar berada dalam mode risiko tinggi, seperti saat terjadi ketegangan AS‑Iran atau bencana alam besar. Di sisi lain, euro memperoleh dukungan dari ekspektasi kenaikan suku bunga ECB, serta dari persepsi bahwa ekonomi zona euro lebih tahan banting dibandingkan Jepang yang masih bergulat dengan inflasi energi. Dengan demikian, pergerakan EUR/JPY ke atas di atas level 187 dapat berlanjut selama tekanan pada yen tetap kuat dan kebijakan ECB tetap hawkish.
- EUR/JPY diperdagangkan di sekitar 187,00 setelah penurunan moderat pada sesi sebelumnya.
- Yen melemah karena harga minyak naik dan ketegangan AS‑Iran.
- Gempa Tohoku 7,5 magnitudo memicu peringatan tsunami di Hokkaido, Iwate, dan Aomori.
- ECB diprediksi akan menaikkan suku bunga tahun ini, meningkatkan daya tarik euro.
- BoJ masih enggan menaikkan suku bunga, meski inflasi energi meningkat.
Kesimpulannya, kombinasi faktor fundamental—yaitu pelemahan yen, kebijakan ECB yang lebih ketat, serta risiko geopolitik dan alam—menyokong EUR/JPY untuk mempertahankan posisi menguatnya dekat level 187,00. Para pelaku pasar akan terus memantau perkembangan tsunami di Jepang serta keputusan kebijakan moneter kedua bank sentral utama untuk menilai arah pergerakan selanjutnya.
