IPD – 15 April 2026 | Tim bulu tangkis Malaysia mengakhiri satu babak kontroversial pada akhir tahun 2025 ketika Lee Zii Jia resmi mundur dari tim inti Thomas Cup 2026. Keputusan yang mengejutkan ini memberi ruang bagi generasi baru, terutama pasangan putri Pearly Tan dan Thinaah Muralitharan, untuk menjadi fokus utama dalam persiapan menuju turnamen dua tahunan di Horsens, Denmark.
Pelepasan skuad Malaysia berlangsung pada 12 April 2026 di Pelatnas Cawangan Badminton Malaysia (PBBM). Ketua Pelatih, Rosman Razak, menegaskan bahwa tim akan berangkat ke Denmark pada 18 April untuk memusatkan latihan intensif sebelum kompetisi dimulai pada 24 April. “Kami mengerti beban mental yang dibawa Lee selama musim ini, dan keputusan beliau untuk mengundurkan diri adalah demi kepentingan tim jangka panjang,” ujar Rosman dalam konferensi pers.
Dengan Lee Zii Jia tidak lagi menjadi andalan, Malaysia menaruh harapan besar pada duo putri Pearly Tan/Thinaah Muralitharan. Pasangan ini telah menunjukkan performa konsisten di sirkuit BWF World Tour, menembus semifinal di beberapa turnamen tingkat Super 500. Kekuatan mereka terletak pada kombinasi kecepatan serangan dan taktik pertahanan yang solid, menjadikan mereka kandidat kuat untuk mengamankan poin kritis di fase grup.
Selain Pearly/Thinaah, skuad putra Malaysia tetap menampilkan pemain senior seperti Aaron Chia/Kris Sheehan di ganda putra, serta pemain tunggal menengah seperti Liew Daren dan Ng Tze Yong. Kedua pemain tunggal ini diharapkan mampu menantang lawan-lawan kuat dari grup D, yang meliputi Prancis, Thailand, dan Aljazair. Analisis awal menilai bahwa Malaysia berada di posisi menengah, namun strategi penempatan pemain di fase penyisihan dapat menjadi penentu utama.
Sementara itu, tim Uber Malaysia menargetkan setidaknya masuk semifinal. Pada grup C, mereka akan bersaing melawan tim kuat Taiwan, Kanada, dan Australia. Fokus utama tim putri terletak pada sinergi ganda putri, terutama pasangan Pearly/Tinaah, yang diharapkan dapat mengatasi pasangan tradisional Asia Tenggara seperti Timor Leste dan tim Oceania.
Perbandingan dengan tim tetangga, Indonesia, memberikan gambaran kompetitif yang jelas. PBSI menargetkan tim Thomas Indonesia mencapai final dan tim Uber setidaknya ke semifinal, dengan grup masing-masing yang juga berisi Prancis, Thailand, dan Aljazair untuk Thomas, serta Taiwan, Kanada, dan Australia untuk Uber. Kekuatan Indonesia di pool D menambah tekanan pada Malaysia, terutama pada fase grup yang sama.
Strategi Malaysia menitikberatkan pada fleksibilitas taktik. Pelatih Rosman menambahkan, “Kami tidak akan mengunci satu formasi. Jika lawan menurunkan pemain tunggal kuat, kami akan menyesuaikan urutan ganda untuk memaksimalkan peluang poin.” Pendekatan ini diharapkan dapat mengatasi keunggulan tim-tim dengan kedalaman skuad yang lebih besar.
Persiapan fisik dan mental juga menjadi prioritas. Tim medis Malaysia telah menyiapkan program pemulihan intensif, termasuk sesi yoga, fisioterapi, dan konseling psikologis untuk mengurangi tekanan kompetitif. Sebagai bagian dari upaya tersebut, Pearly Tan dan Thinaah Muralitharan menjalani sesi khusus untuk meningkatkan koordinasi gerakan di lapangan, termasuk simulasi pertandingan melawan pasangan ganda berbahaya.
Secara historis, Malaysia terakhir meraih gelar Thomas Cup pada 1992, sementara Uber Cup belum pernah dimenangkan sejak 1975. Oleh karena itu, target tahun ini bersifat realistis namun ambisius: menembus setidaknya perempat final di Thomas Cup dan semifinal di Uber Cup. Keberhasilan akan menjadi bukti bahwa generasi baru dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh Lee Zii Jia.
Dengan latihan intensif di Denmark, dukungan penuh federasi, serta tekad kuat para pemain muda, skuad Malaysia siap menorehkan babak baru dalam sejarah bulu tangkis Asia. Drama Lee Zii Jia mungkin telah usai, namun tantangan baru menanti di panggung dunia, dan semua mata kini tertuju pada Pearly Tan dan Thinaah Muralitharan sebagai harapan utama negara.
