IPD – 08 April 2026 | Pasangan mata uang AUD/USD menembus level 0,7080 pada sesi perdagangan Eropa hari Rabu, mencatat kenaikan sekitar 1,45 persen dalam satu hari. Penguatan ini menandai titik tertinggi sejak 20 Maret lalu dan dipicu oleh berita gencatan senjata dua minggu antara Amerika Serikat dan Iran yang menimbulkan sentimen risk‑on di pasar global.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan pada Selasa malam bahwa ia telah menyetujui penangguhan serangan dan pemboman terhadap Iran selama dua minggu, dengan syarat Iran membuka kembali Selat Hormuz. Langkah ini diharapkan mengurangi ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah dan memungkinkan aliran perdagangan laut kembali normal. Pihak militer Iran menanggapi dengan menyatakan kesiapan mereka untuk mengkoordinasikan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz selama periode gencatan.
Sementara itu, Perdana Menteri Pakistan mengundang delegasi perwakilan Iran dan Amerika Serikat ke Islamabad untuk melanjutkan negosiasi pada hari Jumat mendatang. Upaya diplomatik ini menambah optimisme investor bahwa konflik di wilayah tersebut tidak akan bereskalasi lebih jauh, sehingga risiko pasar menurun dan aliran modal ke aset berisiko, termasuk dolar Australia, meningkat.
Namun, fokus utama para pedagang tetap pada risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) yang dijadwalkan dirilis pada Rabu. Dokumen tersebut diharapkan memberikan petunjuk lebih jelas tentang kebijakan moneter Federal Reserve, khususnya terkait kemungkinan penurunan suku bunga di masa mendatang. Pernyataan hawkish atau dovish dari anggota Fed dapat memengaruhi nilai dolar AS secara signifikan, yang pada gilirannya akan memengaruhi pasangan mata uang AUD/USD.
Reserve Bank of Australia (RBA) juga menjadi faktor penting dalam dinamika nilai AUD. Pada pertemuan bulan Maret, RBA menaikkan Official Cash Rate (OCR) menjadi 4,10 persen untuk menahan inflasi yang masih berada di atas target. Pasar kini memperkirakan bahwa pertemuan RBA selanjutnya pada bulan Mei dapat menghasilkan kenaikan suku bunga tambahan, didorong oleh harga minyak yang naik serta pasar tenaga kerja yang tetap ketat. Analis dari Westpac memproyeksikan tiga kali kenaikan suku bunga lagi pada tahun 2026, yang akan mengangkat OCR hingga 4,85 persen—level tertinggi sejak November 2008.
Faktor-faktor fundamental lain yang terus memengaruhi nilai dolar Australia meliputi harga komoditas utama, terutama bijih besi, serta kondisi ekonomi Tiongkok. China tetap menjadi mitra dagang terbesar Australia; pertumbuhan ekonomi Beijing yang kuat meningkatkan permintaan barang-barang komoditas Australia, sehingga memperkuat AUD. Sebaliknya, penurunan permintaan dari China atau penurunan harga bijih besi dapat memberikan tekanan negatif pada mata uang tersebut.
Sentimen pasar global juga memainkan peran penting. Ketika investor beralih ke aset berisiko (risk‑on), mata uang yang terkait dengan komoditas dan ekonomi berbasis sumber daya, seperti dolar Australia, biasanya menguat. Sebaliknya, dalam kondisi risk‑off, dolar AS cenderung menguat sebagai safe haven, menekan nilai AUD. Gencatan senjata AS‑Iran baru-baru ini menurunkan ketidakpastian geopolitik, memungkinkan aliran modal kembali ke pasar risiko dan mendukung AUD.
Secara keseluruhan, kombinasi antara perkembangan geopolitik di Timur Tengah, ekspektasi kebijakan moneter The Fed, dan kebijakan suku bunga RBA menciptakan lanskap yang dinamis bagi pasangan AUD/USD. Pedagang kini menanti dengan seksama risalah FOMC untuk menilai arah kebijakan Fed selanjutnya, sambil memantau data ekonomi Tiongkok dan pergerakan harga komoditas yang dapat memperkuat atau melemahkan dolar Australia. Dengan volatilitas yang masih tinggi, strategi manajemen risiko menjadi kunci bagi para pelaku pasar.
