IPD – 28 Maret 2026 | Jawa Timur memasuki fase transisi antara musim hujan dan musim kemarau. Pada periode 26 Maret hingga 4 April 2026, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda mengeluarkan peringatan bahwa wilayah tersebut berpotensi mengalami cuaca ekstrem yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat, terutama menjelang arus balik Lebaran. Peringatan ini dipicu oleh interaksi beberapa fenomena atmosfer, termasuk gelombang Rossby, gelombang Kelvin, serta pengaruh langsung dari Siklon Tropis Narelle yang berada di Samudra Hindia barat Australia.
Kepala BMKG Juanda, Taufiq Hermawan, menjelaskan bahwa gelombang Rossby dan Kelvin yang melintasi wilayah Jawa Timur menciptakan kondisi atmosfer yang tidak stabil. Di samping itu, suhu muka laut di Selat Madura menunjukkan tingkat penguapan tinggi, memperkuat pembentukan awan hujan konvektif. Kombinasi faktor-faktor ini meningkatkan risiko hujan lebat, petir, angin kencang, banjir, tanah longsor, serta fenomena berbahaya lainnya.
Daerah yang paling berisiko meliputi Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Blitar, Bondowoso, Gresik, Kediri, Lumajang, Malang, Mojokerto, Nganjuk, Ngawi, Pacitan, Ponorogo, Probolinggo, dan Sampang. Selain itu, Kabupaten Sidoarjo, Situbondo, Trenggalek, Tulungagung, Jember, Pasuruan, Bojonegoro, Jombang, Lamongan, serta Tuban juga masuk dalam zona peringatan. Kota‑kota besar seperti Surabaya, Batu, Kediri, Madiun, Mojokerto, Pasuruan, dan Probolinggo tidak luput dari potensi dampak.
- Potensi hujan: intensitas sedang hingga lebat, disertai petir.
- Angin kencang: dapat mencapai kecepatan yang mengganggu transportasi.
- Banjir dan banjir bandang: terutama di daerah rendah dan dataran aluvial.
- Tanah longsor: pada lereng curam, terutama setelah hujan terus-menerus.
- Kondisi jalan licin dan visibilitas menurun akibat hujan lebat.
Siklon Tropis Narelle, yang saat ini berada di sebelah selatan Nusa Tenggara Barat, memperparah ketidakstabilan atmosfer. Meskipun pusat siklon belum mencapai daratan, energi dan kelembapan yang dibawa oleh sistem tersebut memperkuat perkembangan awan‑awan konvektif di wilayah Jawa Timur. BMKG menilai bahwa dalam 10 hari ke depan, perubahan cuaca dapat terjadi secara mendadak, terutama di wilayah dengan topografi pegunungan dan tebing curam.
Untuk mengurangi risiko, BMKG Juanda mengimbau masyarakat melakukan langkah-langkah berikut:
- Memantau informasi cuaca terkini melalui situs resmi BMKG, aplikasi mobile, atau layanan radar cuaca.
- Menghindari aktivitas di luar ruangan pada saat peringatan hujan lebat atau angin kencang.
- Mengamankan barang‑barang yang mudah terbawa angin, terutama di daerah pesisir.
- Menjaga kebersihan saluran air dan memastikan tidak ada penyumbatan yang dapat memperparah banjir.
- Jika tinggal di daerah rawan longsor, tetap waspada terhadap tanda‑tanda pergerakan tanah dan siap evakuasi bila diperlukan.
Wilayah dengan topografi curam, bergunung, atau berbukit diminta meningkatkan kewaspadaan ekstra. Potensi banjir bandang, tanah longsor, jalan licin, serta pohon tumbang dapat mengancam keselamatan penduduk. Taufiq Hermawan menegaskan bahwa kesiapsiagaan komunitas, bersama dengan respons cepat aparat terkait, sangat penting untuk mengurangi dampak bencana hidrometeorologi.
Secara keseluruhan, peringatan BMKG ini menegaskan pentingnya koordinasi antara pemerintah daerah, lembaga penanggulangan bencana, dan masyarakat luas. Dengan memanfaatkan informasi cuaca yang akurat dan mengikuti protokol keamanan, diharapkan dampak negatif dari cuaca ekstrem dapat diminimalisir, sehingga arus balik Lebaran dapat berjalan lancar tanpa gangguan signifikan.
